982 views
Vince Tallent, senior vice president and head of Asia Pacific at Western Union.

Western Union ubah strategi pengiriman uang

Akuisisi Dash mendukung ekspansi ke layanan kredit, pembayaran, dan jasa keuangan konsumen lainnya.

Western Union Company memperluas bisnisnya, dari sekadar transfer uang menjadi juga mencakup layanan kredit, pembayaran, dan berbagai layanan keuangan digital lainnya, seiring perusahaan beradaptasi dengan perubahan perilaku nasabah dan meningkatnya persaingan dari dompet digital, kata seorang eksekutif senior perusahaan.

“Selama ini Western Union berfokus pada pengirim (sender). Semuanya soal memahami apa yang dibutuhkan pengirim untuk mengirim uang, entah itu biaya remitansi, kurs valuta asing terbaik, atau opsi pencairan dana terbaik,” kata Vince Tallent, Senior Vice President sekaligus Head of Asia Pacific Western Union, kepada Asian Banking & Finance dalam wawancara melalui Microsoft Teams.

Ia mengatakan perusahaan-perusahaan teknologi finansial (fintech) kini mulai mengalihkan perhatian ke penerima (receiver), yang mendorong Western Union untuk memperluas layanan yang ditawarkan melalui dompet digital.

Tallent mengatakan Western Union ingin menjadikan dompet digital sebagai platform untuk lebih banyak layanan keuangan, bukan sekadar sarana menerima kiriman uang.

“Kami ingin melangkah lebih jauh untuk memahami nasabah, termasuk kebutuhan mereka yang melampaui sekadar transaksi remitansi,” ujarnya.

Tallent menjelaskan, akuisisi dompet digital Dash dari Singapore Telecommunications Ltd. yang rampung pada April lalu memberi Western Union platform untuk menawarkan layanan di luar remitansi.

Ia mengatakan data transaksi yang terkumpul melalui dompet digital tersebut dapat membantu Western Union menilai kelayakan kredit (creditworthiness) nasabah, dan pada akhirnya menawarkan pinjaman. Perusahaan juga berencana memungkinkan nasabah menggunakan dana kiriman untuk membeli layanan seperti paket data seluler.

“Hal pertama yang biasanya dilakukan penerima begitu menerima uang kiriman adalah mengisi pulsa ponsel atau membeli paket data,” kata Tallent.

Ia menambahkan, Western Union juga berencana meningkatkan kemampuan Dash dalam menangani pembayaran lintas negara, dengan memperluas jumlah koridor remitansi yang tersedia melalui jaringan globalnya.

Selain Dash, perusahaan ini juga menjalin kemitraan dengan ratusan dompet digital dan lembaga keuangan di seluruh dunia, termasuk Tencent dan GCash.

“Mitra kami sekarang bukan lagi sekadar agen, melainkan bank, dompet digital, dan perusahaan fintech,” kata Tallent.

Western Union juga meluncurkan stablecoin pertamanya, US Dollar Payment Token, pada Mei lalu. Meski tengah gencar berekspansi ke ranah digital, Tallent menegaskan uang tunai akan tetap penting bagi banyak nasabah yang belum sepenuhnya siap beralih ke dompet digital.

“Uang tunai akan tetap penting, dan masih relevan bagi segmen tertentu yang belum tentu ingin menggunakan aplikasi untuk mengirim uang,” katanya.

Western Union saat ini mengoperasikan sekitar 370.000 lokasi ritel di seluruh dunia, termasuk 185.000 di antaranya tersebar di kawasan Asia-Pasifik, yang menurut Tallent akan terus melayani nasabah yang lebih memilih bertransaksi secara tunai.

BNI jajaki pemanfaatan jejaring bisnis untuk menilai debitur usaha kecil

Bank melihat AI berpotensi lebih berguna untuk memantau debitur ketimbang menyetujui kredit.

Stablecoin berpotensi memecah sistem pembayaran Asia semakin terkotak-kotak

Sebanyak 44% profesional keuangan berpotensi menggunakan mata uang digital dalam dua tahun ke depan.

Maybank hemat US$9,56 juta lewat perubahan kecil pada proses kerja

Bank mengatakan inisiatif tersebut telah menghemat 2,17 juta hari kerja.

Bank Hong Kong masih tertekan kerugian properti seiring turunnya nilai aset

Pinjaman pengembangan dan investasi properti turun 15% sejak akhir 2022.

Sektor keuangan Singapura pertimbangkan agen AI di tengah celah tata kelola

Kerangka kerja yang diusulkan mengatur kendali atas tindakan kecerdasan buatan (AI) secara real-time.

Bank-bank kian fokus ke pasar regional seiring persaingan yang makin ketat

Cuma ada empat bank dari 20 bank terbesar dunia yang masih berstatus "global universal bank" pada 2025.

AI tingkatkan risiko fraud perbankan seiring celah kontrol yang dihadapi Australia

AUSTRAC menemukan potensi pinjaman fiktif senilai ratusan juta dolar.

Bank-bank Jepang beralih ke stablecoin demi pertahankan simpanan nasabah

Megabank berencana lakukan transaksi mata uang digital bersama pada Maret 2027.

UOB Hong Kong padukan layanan demi menangkan bisnis lintas negara

Bank ini bersiap mengejar pertumbuhan private banking yang lebih kuat menjelang 2030.