, Vietnam
409 views
Prasenjit Chakravarti (right) speaks with Tim Charlton, Editor-in-Chief of Charlton Media Group, in a fireside chat during the ABF Forum held in Bangkok, Vietnam last March 2024.

Prasenjit Chakravarti mengungkap strategi ESG Techcombank

Bank tersebut sedang mengubah infrastruktur IT untuk memproses data hijau lebih baik.

Ada banyak potensi keuntungan dalam ESG, tetapi masih banyak yang perlu dilakukan sebelum bank-bank besar di Vietnam seperti Techcombank dapat mengembangkan operasionalnya di sektor yang masih baru ini.

“Sejujurnya, ada banyak modal yang menunggu untuk dialokasikan ke ESG,” kata Prasenjit Chakravarti, Chief Strategy and Transformation Officer di Techcombank, kepada para hadirin Asian Banking & Finance Forum di Vietnam. Namun, dia juga mencatat perlunya menyelesaikan beberapa masalah terlebih dahulu.

“Kita perlu memiliki beberapa kebijakan struktural, misalnya taksonomi pembiayaan hijau, agar kita benar-benar bisa menerapkannya secara besar-besaran,” kata Chakravarti, seraya menambahkan bahwa bagi Techcombank, "ESG tidak terpisah dari strategi kami, kami memadukan ESG ke dalam strategi."

Meskipun begitu, Chakravarti tidak menutupi tantangan yang ada: Techcombank dan Vietnam baru memulai perjalanan mereka dalam ESG. “Kami bekerja sama dengan pemerintah dalam beberapa inisiatif untuk membantu mereka mendorong kebijakan yang tepat terkait refinancing, yang menurut saya akan sangat membantu dalam memajukan industri,” katanya.

ALSO READ: Banks grapple through era of disruption by being the disruptor

Membangun ke depan 

Meskipun masih banyak yang harus dilakukan untuk memperluas taksonomi dan kebijakan ESG, Techcombank sedang berupaya mempersiapkan diri menuju masa depan yang lebih hijau.

Sebagai langkah awal, bank ini memperhatikan lebih dekat orang-orang yang terlibat: nasabah, pemegang saham, dan karyawan. Techcombank mempekerjakan lebih dari 11.000 orang, dengan populasi yang sangat muda dengan rata-rata usia 30 tahun.

“Ini populasi yang sangat muda, kami memiliki 11.000 orang, dan mereka sangat antusias terhadap ESG. Jadi bagaimana kita memanfaatkan energi dan momentum itu untuk kebaikan bank sekaligus menghasilkan ide-ide bagus untuk klien kami?” kata Chakravarti, sembaru menekankan pentingnya melibatkan karyawan dalam perjalanan ESG Techcombank.

Dari sisi teknis, bank ini berinvestasi dalam waktu dan energi untuk mengubah arsitektur IT datanya agar dapat melacak dan mengelola berbagai data ESG. "Membangun kumpulan data ini, dalam banyak hal, sangat penting untuk meningkatkan cara kami membangun produk dan layanan baru untuk nasabah," tambahnya.

Mengenai sisi permintaan, Chakravarti menyatakan, "Kami melihat banyak permintaan dari investor asing dan institusi di sektor ini. Saya pikir ini hanya masalah waktu sebelum kami melakukan lebih banyak hal dengan permintaan tersebut, seiring dengan tersedianya beberapa faktor pendukung,” katanya.

ALSO READ: Empathy deficit erodes customers’ trust in banks

Apakah ESG sebuah kebutuhan?

Ada permintaan dari investor asing, namun bagaimana dengan  permintaan dalam negeri? Chakravarti menyimpulkan diskusi ini dengan mengatakan bahwa hal tersebut diserahkan kepada bank untuk menyediakan opsi bagi nasabah ritel.

"Apa yang kami temukan adalah bahwa, secara umum, jika bank menawarkan produk perbankan ritel yang selaras dengan prinsip keberlanjutan ESG mereka, jenis layanan tersebut sangat diterima oleh nasabah," katanya, seraya menambahkan bahwa mereka "menemukan banyak keselarasan dalam topik ini dengan nasabah."

Chakravarti mencatat ada pertanyaan yang lebih baik untuk ditanyakan adalah apa yang dapat dilakukan bank seperti Techcombank untuk menyediakan solusi dan produk yang tepat yang memanfaatkan minat pada ESG, serta membuat produk dan layanan ESG lebih "nyata" bagi nasabah ritel pada umumnya.

Salah satu layanan ESG yang dapat ditawarkan oleh bank termasuk fitur tambahan pada kartu kredit yang membantu pengguna melacak jejak karbon mereka.

ALSO READ: Greenwashing in banking: real concern or overblown issue?

Techcombank sedang mengembangkan produk keuangan hijau untuk nasabahnya, seperti pinjaman kendaraan listrik (EV) dan produk yang membantu nasabah ritel melacak jejak karbon mereka.

"Apa yang benar-benar ingin kami lakukan adalah memiliki serangkaian produk pinjaman, deposito, dan investasi yang terhubung dengan ini, tetapi masih dalam tahap pengembangan," kata Chakravarti. Meskipun demikian, dia mengakui bahwa hingga saat ini, Techcombank lebih banyak berfokus pada sektor perbankan korporat.


 

Follow the link for more news on

Bank dan perusahaan asuransi ubah strategi aplikasi demi menjawab kebutuhan nyata pengguna

OCBC, Astra Life, BTN, dan ACA kini lebih menekankan kegunaan dan relevansi dibanding ambisi menjadi super app.

Kepercayaan kredit di Filipina tertahan di tengah kekhawatiran fraud

Nasabah menilai kartu kredit dan pinjaman pribadi sebagai produk berisiko.

Nasabah wealth beralih ke private market demi imbal hasil lebih tinggi

Perusahaan teknologi AS menjadi pendorong utama minat investasi, kata firma wealth digital StashAway.

CEO ZA Bank pertegas fokus pada wealth management dan aset digital

Bank digital ini berencana meluncurkan layanan perdagangan saham Hong Kong pada akhir tahun.

Hong Kong longgarkan aturan berbagi informasi untuk berantas fraud perbankan

Perubahan aturan ini memungkinkan bank berbagi data lebih luas tanpa khawatir risiko hukum.

GXS Bank perluas pembiayaan UMKM setelah akuisisi Validus

Bank digital ini juga membidik merchant Grab dan pelanggan Singtel untuk ekspansi pembiayaan.

BofA: Perusahaan ingin pembayaran lintas negara tanpa kerumitan teknologi

Koridor bilateral dinilai menciptakan tantangan baru meski menawarkan solusi.

Perusahaan kurangi penggunaan dokumen kertas, dorong percepatan transformasi trade finance

Onboarding yang cepat memungkinkan perusahaan beradaptasi lebih lincah saat perubahan tarif memaksa pergeseran pasar pemasok.

Bagaimana tokenisasi mengubah solusi manajemen kas?

HSBC dan Citi memungkinkan transfer dana 24/7 melalui teknologi ini.

Bank-bank Hong Kong kehilangan talenta terbaik akibat proses rekrutmen yang terlalu panjang

Perekrutan naik 2,5% di 15 bank berdasarkan survei tahunan Asian Banking & Finance.