, Hong Kong
5238 views
StashAway.

Nasabah wealth beralih ke private market demi imbal hasil lebih tinggi

Perusahaan teknologi AS menjadi pendorong utama minat investasi, kata firma wealth digital StashAway.

Permintaan terhadap diversifikasi investasi mulai mengubah cara investor ritel mengelola kekayaan, dengan meningkatnya minat pada private market—segmen yang sebelumnya lebih banyak diakses institusi besar.

Sejumlah dana investasi private kini memperluas layanan mereka untuk menjangkau investor individu, kata Stephanie Leung, Chief Investment Officer StashAway Hong Kong Ltd.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat kombinasi faktor pendorong dan penarik,” ujarnya kepada Asian Banking & Finance. “Faktor penariknya adalah investor menginginkan imbal hasil yang lebih tinggi. Faktor pendorongnya, banyak private fund mulai membuka akses dengan nilai investasi yang lebih kecil bagi investor individu.”

Private market—yang mencakup private equity, venture capital, dan aset non-publik lainnya—secara historis dikenal mampu menghasilkan return lebih tinggi dibanding saham dan obligasi yang diperdagangkan di bursa.

Namun, akses ke segmen ini selama bertahun-tahun sangat terbatas. Persyaratan investasi minimum yang sering mencapai jutaan dolar membuat pasar tersebut didominasi dana pensiun, endowment, dan perusahaan asuransi.

Eksklusivitas itu kini mulai berkurang seiring perkembangan platform teknologi finansial yang membawa strategi investasi private market ke investor skala lebih kecil. “Kami membangun penawaran private market karena memang ada permintaan langsung dari nasabah,” kata Leung dalam wawancara video.

Perubahan ini juga mencerminkan pergeseran alokasi kekayaan yang lebih luas. Selama puluhan tahun, pasar properti Hong Kong menjadi mesin utama pertumbuhan kekayaan banyak keluarga. Namun sejak 2021, sektor tersebut mengalami perlambatan akibat pembatasan pandemi, tekanan ekonomi dari Tiongkok, serta kenaikan suku bunga.

“Ke depan, imbal hasil dari pasar properti kemungkinan tidak lagi sebesar yang kita nikmati selama 20–30 tahun terakhir,” kata Leung.

Meski sejumlah analis melihat tanda pemulihan—S&P memproyeksikan penjualan properti residensial mencapai 20.000 unit pada 2025, tertinggi sejak 2019—banyak investor mulai mencari peluang investasi lain. Salah satu fokus utama adalah sektor teknologi di Amerika Serikat.

“Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat kebangkitan perusahaan teknologi di AS dan perkembangan kecerdasan buatan (AI). Ini menghadirkan banyak peluang yang tidak tersedia di sini,” ujarnya.

Ia mencontohkan OpenAI dengan valuasi sekitar US$500 miliar yang menjadikannya perusahaan private paling bernilai di dunia, serta SpaceX yang berada pada kisaran valuasi serupa. “Banyak perusahaan raksasa dengan kapitalisasi besar kini bertahan lebih lama sebagai perusahaan private.”

Tren ini turut menguntungkan platform wealth digital seperti StashAway, yang menawarkan akses lebih mudah ke private fund dengan batas investasi yang lebih rendah. Selama ini, ambang investasi yang tinggi serta periode lock-up yang panjang membuat investor muda sulit masuk.

“Segmen ini sebenarnya memiliki likuiditas yang cukup untuk berinvestasi, tetapi pilihan yang tersedia sangat terbatas dan sering kali disertai banyak syarat, seperti minimum investasi yang tinggi dan lock-up period,” kata Leung.

StashAway memposisikan diri sebagai penasihat wealth digital “dengan sentuhan manusia”, menawarkan akses private equity mulai dari US$20.000—jauh lebih rendah dibanding standar institusi. Perusahaan juga menyediakan penasihat obligasi khusus bagi nasabah pada tier investasi tertentu, dengan pendekatan yang disesuaikan terhadap tujuan finansial masing-masing.

“Ini memberikan cara yang lebih mudah bagi profesional muda maupun investor affluent untuk melakukan diversifikasi portofolio, baik melalui instrumen publik maupun private,” ujarnya.

Demografi utama StashAway, yakni profesional berusia 30 hingga 45 tahun, umumnya menuntut fleksibilitas serta kemudahan digital. Mereka lebih terbiasa mengelola keuangan melalui smartphone dibanding melalui penasihat perbankan tradisional.

“Misalnya hari ini saya punya ide investasi dan ingin mengalokasikan ulang portofolio. Saya ingin melakukannya langsung, bukan harus menelepon wealth advisor yang mungkin sedang tidak tersedia,” kata Leung.

Dengan akses aplikasi selama 24/7, investor dapat memantau sekaligus menyesuaikan portofolio secara instan. “Sebagian besar nasabah kami, terutama yang sangat melek teknologi, sudah sangat terbiasa mengelola investasi sendiri melalui aplikasi, di mana pun mereka berada. Ini adalah tren yang tidak akan hilang,” tutupnya.

BofA: peran treasury bergeser ke advisory strategis

Klien-klien menahan lebih banyak likuiditas di Singapura di tengah ketidakpastian.

UKM China perluas jangkauan ke ASEAN melalui model digital-first

Barang konsumen, solusi digital, dan logistik mendorong ekspansi ke luar negeri.

Standard Chartered dan A*STAR bentuk laboratorium untuk perkuat wealth management dan lawan penipuan

Kerja sama senilai $11,7 juta dengan ASTAR ini menghadirkan 10 peneliti ASTAR untuk mengeksplorasi dukungan wealth management dan pengendalian penipuan.

Bank Singapura tingkatkan kehati-hatian dengan perketat perekrutan

Jumlah tenaga kerja di 15 lender hanya naik 0,005% pada 2025.

Meningkatnya IPO picu perekrutan karyawan bank di Hong Kong

Tenaga kerja di 15 lender turun 0,73% menjadi 74.

Kenaikan suku bunga Australia berpotensi memperlambat penyaluran kredit di bank-bank besar

Aktivitas refinancing diperkirakan meningkat seiring nasabah mencari suku bunga KPR yang lebih murah.

Nasabah wealth alihkan fokus dari imbal hasil ke keamanan masa pensiun

Para penasihat keuangan dituntut memberikan layanan yang lebih cepat dan perencanaan keuangan yang lebih menyeluruh.

Bagaimana Bank-Bank memperkuat pondasi terhadap guncangan harga minyak?

Bank-bank asal China kemungkinan besar akan menanggung dampak paling besar.

Kerangka pembayaran SWIFT targetkan kejelasan biaya dan penelusuran transaksi yang lebih cepat

Lebih dari 50 bank mendukung perubahan yang memanfaatkan sistem yang sudah ada.

Bank-bank Jepang taruh miliaran dolar untuk dorong pertumbuhan keuangan dan teknologi India

GFTN menggandeng kedua belah pihak dalam bidang talenta, teknologi, dan akses pasar.