1314 views
Lewis Sun (left) and Ambrish Bansal (right) (Photo courtesy of HSBC and Citibank)

Bagaimana tokenisasi mengubah solusi manajemen kas?

HSBC dan Citi memungkinkan transfer dana 24/7 melalui teknologi ini.

Tokenisasi dengan cepat mengubah cara bank menyediakan layanan manajemen kas, memungkinkan perusahaan mengakses likuiditas secara real-time dan memindahkan dana lintas negara secara aman tanpa terikat jam operasional perbankan tradisional maupun keterlambatan settlement.

Aset yang ditokenisasi—representasi digital dari uang atau instrumen keuangan—dinilai mampu menyederhanakan operasi treasury global, menurut para pakar manajemen kas kepada Asian Banking & Finance.

Dengan memanfaatkan teknologi blockchain, perusahaan kini dapat melakukan transfer dana selama 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, sekaligus menghilangkan batas waktu transaksi dan proses settlement yang biasanya memerlukan beberapa hari.

Bank-bank global mulai mengintegrasikan tokenisasi ke dalam layanan treasury mereka. Pada Juni, HSBC Holdings Plc meluncurkan Tokenised Deposit Service, platform settlement berbasis blockchain yang memungkinkan pembayaran real-time dalam dolar Hong Kong dan dolar AS antar dompet korporasi yang dikelola di cabang Hong Kong. Layanan ini ditujukan untuk meningkatkan manajemen likuiditas dan efisiensi operasional nasabah korporasi.

Sebelumnya, Citigroup, Inc. memperkenalkan Citi Token Services yang memungkinkan transfer likuiditas antar cabang Citi yang berpartisipasi selama 24/7. Layanan ini menjadi bagian dari strategi bank untuk memodernisasi infrastruktur manajemen kas melalui pemanfaatan aset digital.

Dalam laporan bersama Deutsche Bank dan Baker McKenzie pada April, adopsi tokenisasi secara luas disebut akan bergantung pada kolaborasi industri, modernisasi regulasi, serta permintaan pasar yang didorong perubahan preferensi generasi investor. Tantangan terkait likuiditas dan tingkat adopsi juga perlu diatasi agar teknologi ini berkelanjutan dalam jangka panjang.

Asian Banking & Finance berbincang dengan dua bankir untuk memahami bagaimana tokenisasi mengubah cara bank menawarkan solusi manajemen kas.

Lewis Sun, Global Head of Domestic and Emerging Payments HSBC, mengatakan konsep real-time treasury—di mana korporasi dapat memindahkan dana kapan saja—semakin mendekati kenyataan. Menurutnya, kemajuan tokenisasi mengubah cara treasury korporasi mengelola likuiditas di tengah perubahan teknologi dan rantai pasok global.

Ia menilai tuntutan untuk mengelola likuiditas global secara real-time membuat keterbatasan infrastruktur pembayaran tradisional semakin terlihat. Transaksi lintas negara kerap terkendala cut-off time, pemrosesan batch, serta visibilitas yang terbatas. Bahkan di pasar domestik, pembayaran real-time sering kali hanya tersedia untuk mata uang lokal.

Tokenised deposits, lanjutnya, mengubah paradigma tersebut. Dengan mengonversi deposito bank komersial menjadi token berbasis blockchain, treasury kini dapat mengakses likuiditas digital yang aman selama 24/7, sekaligus meningkatkan visibilitas dan kontrol terhadap keuangan perusahaan.

Karena token merepresentasikan nilai di blockchain, konfirmasi pembayaran dapat terjadi secara instan, memungkinkan visibilitas transaksi lintas yurisdiksi secara berkelanjutan. Fitur smart contract juga memungkinkan pembayaran terprogram dan membuka berbagai use case baru.

Bagi perusahaan yang beroperasi di banyak negara, hal ini menghadirkan manajemen treasury yang lebih lincah dan tangguh. Treasury tidak lagi bergantung pada proses akhir hari, tetapi dapat mengelola modal kerja secara dinamis sepanjang waktu.

HSBC meluncurkan Tokenised Deposit Service di Hong Kong dan Singapura—dua pusat treasury utama di Asia—dengan Ant International sebagai pengguna pertama. Melalui infrastruktur baru tersebut, Ant melakukan transfer tokenisasi antar dompet blockchain, menunjukkan bagaimana solusi ini meningkatkan efisiensi aliran dana internal perusahaan.

Meski begitu, Sun menekankan bahwa tokenisasi masih berada pada tahap awal. Adopsi yang lebih luas membutuhkan kejelasan regulasi, interoperabilitas antarbank, serta integrasi ekosistem yang lebih matang. Namun, arah perkembangannya dinilai jelas: solusi tokenisasi akan melengkapi infrastruktur kas tradisional dan memberikan fleksibilitas serta efisiensi baru dalam pengelolaan likuiditas global.

Sementara itu, Ambrish Bansal, Managing Director dan Global Head of Liquidity Management Products Citi, menilai dunia bisnis saat ini menuntut transaksi keuangan real-time.

“Ekonomi global tidak pernah tidur. Dalam lingkungan bisnis yang selalu aktif, transaksi real-time bukan lagi kemewahan, tetapi kebutuhan,” ujarnya.

Menurut Bansal, sistem perbankan tradisional dengan batas waktu antarbank, libur akhir pekan, dan penutupan operasional tidak lagi mampu mengikuti kebutuhan bisnis modern. Transfer dana lintas negara kerap menghadapi keterlambatan, kompleksitas, dan biaya tambahan.

Citi Token Services berupaya mengatasi persoalan tersebut dengan memanfaatkan token digital di jaringan blockchain privat milik Citi. Solusi ini memungkinkan perpindahan dana secara instan di seluruh dunia tanpa terhambat keterbatasan sistem tradisional.

Layanan ini sudah aktif di empat pasar utama dan memproses volume transaksi yang signifikan. Di Hong Kong, misalnya, sejumlah klien e-commerce menggunakan layanan ini untuk transaksi antarperusahaan lintas pasar, sehingga pendanaan pembayaran keluar dari Hong Kong dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.

Menurut Bansal, bisnis global saat ini menuntut kecepatan, kesederhanaan, dan akses likuiditas 24/7. Citi Token Services dirancang sebagai solusi yang aman dan scalable untuk mentransformasi manajemen kas lintas negara.

Dengan memanfaatkan jaringan blockchain privat Citi, nasabah dapat memindahkan likuiditas secara instan antar pasar menggunakan rekening fiat yang sudah ada, sementara kompleksitas teknis dikelola sepenuhnya oleh bank.

Keberhasilan awal di pasar seperti Hong Kong menunjukkan bagaimana tokenisasi mampu meningkatkan kecepatan transaksi, mengurangi friksi operasional, dan mengubah cara institusi mengelola kas secara global.

Bank dan perusahaan asuransi ubah strategi aplikasi demi menjawab kebutuhan nyata pengguna

OCBC, Astra Life, BTN, dan ACA kini lebih menekankan kegunaan dan relevansi dibanding ambisi menjadi super app.

Kepercayaan kredit di Filipina tertahan di tengah kekhawatiran fraud

Nasabah menilai kartu kredit dan pinjaman pribadi sebagai produk berisiko.

Nasabah wealth beralih ke private market demi imbal hasil lebih tinggi

Perusahaan teknologi AS menjadi pendorong utama minat investasi, kata firma wealth digital StashAway.

CEO ZA Bank pertegas fokus pada wealth management dan aset digital

Bank digital ini berencana meluncurkan layanan perdagangan saham Hong Kong pada akhir tahun.

Hong Kong longgarkan aturan berbagi informasi untuk berantas fraud perbankan

Perubahan aturan ini memungkinkan bank berbagi data lebih luas tanpa khawatir risiko hukum.

GXS Bank perluas pembiayaan UMKM setelah akuisisi Validus

Bank digital ini juga membidik merchant Grab dan pelanggan Singtel untuk ekspansi pembiayaan.

BofA: Perusahaan ingin pembayaran lintas negara tanpa kerumitan teknologi

Koridor bilateral dinilai menciptakan tantangan baru meski menawarkan solusi.

Perusahaan kurangi penggunaan dokumen kertas, dorong percepatan transformasi trade finance

Onboarding yang cepat memungkinkan perusahaan beradaptasi lebih lincah saat perubahan tarif memaksa pergeseran pasar pemasok.

Bagaimana tokenisasi mengubah solusi manajemen kas?

HSBC dan Citi memungkinkan transfer dana 24/7 melalui teknologi ini.

Bank-bank Hong Kong kehilangan talenta terbaik akibat proses rekrutmen yang terlalu panjang

Perekrutan naik 2,5% di 15 bank berdasarkan survei tahunan Asian Banking & Finance.