, Singapore
464 views
SEA's e-wallet payments are expected to exceed $114b by 2025, according to PwC. (Photo source: Jonas Leupe)

Apa yang UKM harapkan dari solusi pembayaran modern?

ABF berbincang dengan para pakar dari Mastercard, Enterpryze, Boku, dan Xfers untuk mengetahui lebih lanjut.

Ketika semua orang  beralih menggunakan dompet digital, bisnis juga meningkatkan sarana untuk memenuhi permintaan yang meningkat akan opsi pembayaran digital. Tetapi banyak usaha kecil dan menengah (UKM) menemukan tantangan dalam melakukan lompatan, mengingat beragam pilihan yang dapat mereka jelajahi.

"Asia Tenggara telah menyaksikan menjamurnya dompet digital sebagai akibat dari pembayaran tap-and-go yang merupakan pilihan yang disukai konsumen," kata PwC, menyebut Asia Tenggara sebagai tempat bertumbuhnya dompet digital dan superapps secara alami. Pembayaran dompet digital di kawasan ini diperkirakan akan melebihi $114 miliar pada 2025, lima kali lebih besar dari capaian $22 miliar di 2019.

Jadi apa yang dibutuhkan dan diharapkan UKM dari solusi pembayaran modern, dan apa yang dapat dilakukan perusahaan pembayaran untuk membantu mereka berubah menjadi bisnis yang sedang berkembang? Asian Banking & Finance berbicara dengan para pakar industri dari penyedia jaringan pembayaran global Mastercard, penyedia perangkat lunak UKM Enterpryze, perusahaan pembayaran seluler Boku, dan platform pembayaran Xfers untuk mempelajari lebih lanjut :

Executive Vice President, Products & Innovation, Asia Pacific, Mastercard, Sandeep Malhotra:

“Ketika UKM bergegas menopang operasi digital mereka, mereka bergulat dengan tantangan serupa: bagaimana menjaga pendapatan masuk sambil meminimalkan biaya dan mengurangi kompleksitas. Bagi solusi pembayaran untuk mengatasi titik-titik masalah ini, mereka perlu membantu bisnis menangkap setiap kemungkinan penjualan, menjaga biaya tetap rendah dan implementasi sederhana, terutama ketika pengusaha kekurangan waktu dan kekurangan sumber daya.

Pertama, untuk menjaga agar pendapatan tetap mengalir, bisnis harus memberi konsumen banyak pilihan tentang cara mereka membayar untuk memastikan mereka bisa menggunakan metode pembayaran pilihan mereka. Apakah itu kartu, kode QR, atau dompet digital. Dengan memaksimalkan kenyamanan dan pilihan bagi konsumen, bisnis dapat lebih mudah mengkonversi penjualan di setiap saluran digital maupun fisik. 

Kedua, teknologi yang dibutuhkan untuk penerimaan pembayaran online dan offline harus terjangkau dan dapat diakses. Saat diluncurkan tahun lalu, kemampuan penerimaan berbasis perangkat lunak seperti Soft POS mengubah ponsel pintar sehari-hari menjadi terminal POS tanpa kontak, menghilangkan kebutuhan untuk berinvestasi dalam perangkat keras yang mahal sambil memberikan bisnis, cara yang lebih sederhana, lebih nyaman dan aman untuk mengelola transaksi — di mana pun pelanggan membutuhkannya.

Terakhir, platform digital perlu melakukan lebih dari sekadar memproses pembayaran — mereka juga perlu terhubung ke infrastruktur yang lebih luas yang mendukung aspek-aspek lain dari operasi bisnis. Seperti pembukuan, logistik, dan pemenuhan. Pemilik usaha kecil terus-menerus menyeimbangkan 'bekerja di sini' dan 'bekerja di sana' dalam bisnis mereka, jadi jika memugkinkan, data yang diperoleh pembayaran elektronik bisa membantu menginformasikan dan mengotomatiskan proses ini dan membebaskan pengusaha untuk fokus pada pertumbuhan."

CEO Enterpryze, Morgan Browne:

“Kami tidak akan kembali ke hari-hari pra-COVID dalam hal pembayaran. Pembayaran modern (misalnya pembayaran kode QR, transfer online, dll.) telah memfasilitasi sebagian besar transaksi selama beberapa tahun terakhir. Sebagai gantinya, kami aakanmenyaksikan konsumen bersikap spesifik dalam jenis pembayaran digital apa yang mereka sukai.

Ini akan mempengaruhi atau lebih tepatnya menginspirasi lebih banyak UKM untuk memasukkan sebanyak mungkin solusi pembayaran dalam memenuhi kebutuhan demografi mereka yang terus berkembang. Kita akan melihat UKM tidak hanya mengharapkan — tetapi juga menuntut — proses antarmuka pengguna yang lebih baik, dukungan yang lebih lancar, dan umumnya pengalaman yang memenuhi kebutuhan mereka lebih dahulu. UKM juga memahami bahwa lebih dari sebelumnya mereka sekarang harus berada ke depan dari lockdown dan penutupan sementara toko ritel fisik mereka; jadi solusi pembayaran apa pun yang mereka pilih harus menjadi sesuatu yang terus-menerus dapat diakses oleh konsumen mereka. Transaksi dan biaya perantara yang diambil oleh penyedia solusi pembayaran juga akan diteliti oleh UKM dengan lebih teliti. Beberapa UKM dan usaha mikro tidak melihat perlunya kartu kredit dan biaya pemrosesan yang tinggi karena konsumen mereka terbiasa dengan kebiasaan membayar melalui kode QR di Asia."

Vice President and General Manager, Asia-Pacific (APAC), Boku, Loke Hwee Wong:

“UKM tidak punya waktu atau bandwidth untuk dipikirkan atau ditujukan dalam menerapkan solusi pembayaran. Mereka harus dapat dengan cepat dan mudah melakukan transaksi antara pelanggan, vendor, dan mitra mereka.

Pembayaran modern, seperti pembayaran digital, terutama dompet digital, telah melakukan pekerjaan yang sangat baik dalam memberdayakan pedagang untuk menerima pembayaran non tunai. Untuk transaksi offline, kode QR sederhana memungkinkan pelanggan melakukan pembayaran. Alhasil, aplikasi dompet sdigital mereka adalah yang mereka butuhkan untuk menerima pembayaran tersebut. Ini jauh lebih mudah daripada penerimaan kartu kredit, yang membutuhkan perangkat keras untuk transaksi offline atau penyedia layanan pembayaran pihak ketiga (PSP) untuk menerima pembayaran berbasis kartu.

Namun, untuk UKM online, justru berkebalikan. Menerima kartu kredit telah menjadi jauh lebih mudah oleh penyedia layanan pembayaran pihak ketiga dengan spesialisasi  bisnis kecil. Selain itu, shopping cart seperti Shopify tidak hanya menyediakan etalase, tetapi juga solusi pembayaran turnkey. Sebaliknya, penerimaan online dompet digitaltetap menjadi tantangan. Beberapa PSP menerima dompet digital, di luar AliPay dan kadang-kadang WeChat Pay di Cina. Untuk UKM di tempat lain di wilayah ini, penerimaan dompet digital online sulit, jika bukan tidak mungkin.

Asia memiliki salah satu tingkat penetrasi kartu kredit terendah di wilayah mana pun di dunia, dan dompet digital jika bukan hanya pembayaran yang lebih disukai oleh konsumen.

UKM harus mengharapkan pembayaran menjadi mudah diintegrasikan dan digunakan secara luas oleh pelanggan mereka. Meskipun ini merupakan kasus untuk pembayaran offline, hal yang sama tidak dapat ditujukan untuk transaksi online. Dalam dunia digitalisasi yang lebih besar, terutama dalam menghadapi pandemi, solusi pembayaran perlu beradaptasi untuk memastikan bahwa bisnis online dapat lebih mudah naik dan menerima jenis pembayaran yang paling populer. Inilah yang dimaksud dengan Boku’s M1st Payment Network: di mana ditujukan untuk membawa kesederhanaan  seperti pada kartu kredit ke dunia pembayaran digital yang kompleks bagi pengguna pertama ponsel."

Xfers, Sharon Lourdes:

“Dengan persaingan ketat yang terjadi di wilayah online, proses pembayaran yang mulus adalah faktor penentu antara konsumen yang mencapai halaman check-out, atau menimbulkan frustrasi bagi pesaing. Kelangsungan bisnis tergantung pada kelincahan mereka dalam mengintegrasikan metode pembayaran yang disukai oleh konsumen mereka - dari kode QR tanpa kontak ke semua pembayaran kartu virtual serta kemampuan mereka untuk mengatur dan mengelola volume besar transaksi dengan lancar dan aman."

Follow the links for more news on

UNO Digital Bank menargetkan menjadi bank virtual terdepan di Filipina

CEO Manish Bhai mengatakan mereka ingin menjadi yang pertama dalam memenuhi kebutuhan keuangan nasabah Filipina.

DBS Hong Kong pamerkan seragam baru untuk merepresentasikan cabang yang lebih hijau

Bank membuat pernyataan tentang masa depan bukan melalui produk baru, tetapi dengan seragam.

Sektor keuangan dan perbankan Indonesia merupakan industri kedua yang paling banyak mendapat serangan siber

Lembaga keuangan diserang tiga kali lipat dari rata-rata global setiap minggu.

Investasi fintech Indonesia mencapai rekor tertinggi di semester pertama

Payment gateway Xendit mengumpulkan $300 juta dalam pendanaan Seri D untuk membantu menaikkan angka.

Thailand mengejar ketertinggalan keuangan hijau global

Bank menyerukan legislator untuk mengenakan pajak karbon dan tujuan taksonomi bersama.

DBS menunjuk Lim Chu Chong sebagai presiden direktur DBS Indonesia

Lim saat ini menjabat sebagai COO Institutional Banking Group DBS.

Home Credit Indonesia menyepakati pinjaman terkait ESG senilai $10 juta dengan Deutsche Bank

Pinjaman tersebut akan digunakan untuk meningkatkan inklusi dan literasi keuangan.

Data adalah kutukan sekaligus anugerah dalam upaya mengatasi kesenjangan investasi yang berkelanjutan

Menggunakan alat ini dengan cara yang benar adalah kunci untuk mendorong dan memenuhi tujuan ESG, kata Sisca Margaretta dari Experian.

LINE Bank Indonesia meluncurkan dua pinjaman digital baru

Pinjaman ini memiliki opsi pembayaran yang fleksibel.