Kepercayaan kredit di Filipina tertahan di tengah kekhawatiran fraud
Nasabah menilai kartu kredit dan pinjaman pribadi sebagai produk berisiko.
Kekhawatiran terhadap fraud dan tingginya biaya pinjaman mulai menahan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap bank dan penyedia kredit di Filipina, menurut TransUnion Philippines.
“Meski masyarakat Filipina kini lebih memahami kredit dan tingkat kepercayaannya meningkat dibanding tahun lalu, konsumen tetap menginginkan jaminan yang lebih kuat melalui lingkungan kredit yang lebih aman dan suportif,” kata Peter Faulhaber, President dan CEO TransUnion Philippines, kepada Asian Banking & Finance.
Keamanan dan kepercayaan menempati posisi penting kedua setelah kenyamanan dalam menentukan pilihan lembaga pemberi pinjaman, berdasarkan Credit Perception Index (CPI) yang dirilis September. Indeks tersebut berada di level 73 poin, sedikit turun dari 74 poin pada tahun sebelumnya, menandakan sentimen kredit yang stabil namun tetap berhati-hati. Meski demikian, tingkat kepercayaan terhadap kredit meningkat enam poin dibanding 2024, kata Faulhaber.
Walaupun literasi kredit menunjukkan perbaikan, sikap skeptis masyarakat masih kuat. Indeks tersebut mencatat penurunan sembilan poin dalam penerimaan terhadap pesan-pesan edukasi kredit, yang berarti semakin sedikit masyarakat yang tertarik menggunakan kredit meskipun sudah memahami manfaatnya.
“Produk seperti kartu kredit dan pinjaman pribadi masih dipandang sebagai instrumen yang berisiko,” ujar Faulhaber.
Ia menambahkan bahwa berbagai langkah untuk menekan fraud dan praktik pinjaman yang merugikan—termasuk regulasi anti-penipuan finansial dan pembatasan pembiayaan yang terkait aktivitas perjudian—dapat membantu menjawab kekhawatiran konsumen. Namun, transparansi dan komunikasi tetap menjadi faktor kunci.
Menurutnya, berbagi data dan insight, seperti indeks persepsi kredit yang dikembangkan TransUnion, serta perluasan akses kredit juga dapat membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk meminjam.
Meski demikian, memperluas akses kredit masih menjadi tantangan, terutama bagi kelompok usia lebih tua dan mereka yang memiliki riwayat kredit terbatas.
“Ketika generasi boomer bersedia menggunakan kredit, mereka sering kali tidak memiliki akses karena riwayat kredit yang minim,” kata Faulhaber. “Di sinilah lembaga keuangan dapat memanfaatkan data alternatif untuk melayani lebih banyak masyarakat secara bertanggung jawab.”
Data alternatif seperti riwayat pembayaran utilitas dan tagihan telekomunikasi dinilai dapat menutup kesenjangan tersebut.
“Salah satu pendekatan utama kami adalah memanfaatkan data alternatif—baik data utilitas maupun telekomunikasi—untuk membangun gambaran perilaku pembayaran individu yang selama ini rutin membayar tagihannya,” ujarnya.
Informasi tersebut kemudian diolah menjadi skor kredit yang digunakan bank dan lembaga pembiayaan untuk menilai kelayakan nasabah di luar sistem biro kredit tradisional.
“Inisiatif ini sudah dikembangkan sejak 2017, dan kini kami melihat tingkat adopsi yang signifikan di berbagai industri,” tutup Faulhaber.