, APAC

Apa arti “gold standard” dalam sektor pembayaran dan e-commerce di Asia?

Beragam tantangan pasar membuka peluang bagi solusi untuk muncul mengatasi permasalahan spesifik negara-negara di kawasan tersebut

Agar perusahaan-perusahaan Asia mencapai level "gold standar" dalam pembayaran dan e-commerce, mereka harus terlebih dahulu menerima bahwa no one-size-fits-all atau tidak ada satu ukuran untuk semua dalam mencapai level tersebut, menurut Payoneer Vice President for Asia Pacific, Nagesh Devata. Bahkan, perusahaan yang telah berhasil, telah beradaptasi dengan preferensi pasar individu.

“Di Asia, ada beragam tantangan di banyak pasar yang variatif dengan kebutuhan yang kompleks secara individual. Ketika Anda membandingkan ini dengan AS atau Eropa, umumnya ada tingkat kesamaan yang tidak terlihat di Asia."

Tetapi sementara kompleksitas ini dapat menjadi tantangan, hal tersebut juga menghadirkan peluang untuk mengembangkan solusi yang akan mengatasi permasalahan ditingkat negara atau wilayah, terutama karena sektor ini berupaya untuk melayani banyak kebutuhan yang selama ini kurang terlayani, katanya.

Ketika mempertimbangkan Asia sebagai "gold standar" dalam pembayaran dan e-commerce, kita harus melihat ke tingkat inovasi yang telah ada di pasar Asia selama beberapa tahun terakhir, terutama sejak pandemi dimulai, Devata menjelaskan. Tantangan terhadap inovasi seperti warisan infrastruktur dan sistem sebelumnya, sering kali dihindari di Asia dan di daerah berkembang lainnya untuk menurunkan periode atau waktu dalam pengembangannya, tambahnya.

“Peluang ini ditambah dengan adanya persaingan yang ketat, kumpulan besar pasar yang beragam, dan tenaga kerja yang berpendidikan tinggi dan termotivasi menciptakan lanskap transformatif yang bergerak dengan cepat, jauh lebih cepat daripada negara-negara barat."

Asian Banking&Finance berbicara kepada Devata melalui email untuk mencari tahu lebih banyak tentang perbedaan antara pasar pembayaran masing-masing di Asia dan Barat, bagaimana disruption telah mempengaruhi, dan apa yang akan terjadi di masa depan.

Apa perbedaan yang paling menonjol antara pasar pembayaran masing-masing di Asia dan Barat? Di mana kedua pasar saling tumpang tindih?

Lanskap pembayaran di Asia sering perlu melayani rentang sosial-ekonomi yang jauh lebih luas daripada rekan-rekan baratnya, yang berarti bahwa penyedia pembayaran di Asia harus memenuhi kebutuhan unik dari banyak demografi yang berbeda melalui solusi yang bervariasi dan sangat terlokalisir. Keragaman dalam persyaratan ini adalah sesuatu yang, misalnya di Amerika Utara, tidak perlu ditangani pada skala yang sama.

Proliferasi dan preferensi perangkat adalah perbedaan penting lainnya antara lanskap pembayaran di Asia dan Barat. Di Asia, konsumen lebih suka perangkat seluler, sementara Barat umumnya condong menggunakan perangkat desktop.

Terlepas dari perbedaan mereka, Asia dan Barat juga berbagi beberapa karakteristik pasar pembayarannya masing-masing dimana keduanya menuntut pengalaman pengguna yang mulus pada perangkat pilihan mereka dan berbagai solusi yang individual untuk memenuhi kebutuhan mereka. Meskipun kedua pasar fokus pada pengalaman pembayaran, mereka umumnya akan mengambil pendekatan yang berbeda, karena perbedaan budaya, peraturan, dan geografis.

Di mana posisi sektor pembayaran Asia di tengah pembukaan kembali ekonomi dan kebangkitan kasus COVID-19 di beberapa negara? Negara mana yang paling diuntungkan, dan negara mana yang harus banyak mengejar ketertinggalan?

Salah satu pendorong utama bagaimana lanskap pembayaran akan berkembang, pasca-pandemi, adalah tingkat vaksinasi di setiap negara. COVID-19 tetap menjadi pengganggu besar bagi industri di Asia, yang pada gilirannya terus mendorong inovasi dan meningkatkan permintaan pembayaran digital.

Ketika ekonomi mulai dibuka kembali, kita mungkin akan melihat kebangkitan ritel fisik, tetapi juga kemungkinan bahwa kita akan melihat konvergensi ritel fisik dan digital, yang menghasilkan tren perdagangan omnichannel.

Pandemi telah menormalkan digitalisasi kehidupan kita sehari-hari, yaitu; check-out digital, pemanfaatan platform digital, dan elemen lain dari pengalaman tanpa kontak fisik. Ketika pengguna ingin memasukkan alat-alat digital ini ke dalam interaksi fisik mereka, kita akan melihat bisnis seperti ini akan berkembang. Bagaimana bisnis memilih untuk beradaptasi, akan menentukan bagaimana mereka akan melakukannya di lingkungan pasca-COVID, terlepas dari kondisi sebuah negara. 

Selain karena pelanggan cepat mengubah permintaan sesuai keinginan mereka, apa lagi yang bisa dilakukan oleh perusahaan pembayaran dan e-commerce di Asia dari adanya lonjakan pembayaran digital?

Laju perubahan yang terlihat dalam ruang pembayaran digital membuktikan bahwa terlepas dari kemajuan teknologi dan budaya yang telah terjadi selama 18 bulan terakhir, yang sebelumnya diperkirakan akan terjadi dalam periode waktu yang lebih lama, ada kemungkinan preferensi konsumen dapat berporos dengan sangat cepat. Kami telah melihat bahwa pengguna dapat dan bersedia mengubah cara mereka melakukan pembayaran; dan akan lebih bijaksana bagi perusahaan pembayaran dan e-commerce untuk merencanakan semacam regresi kebiasaan pembayaran digital.

Namun, meskipun kebangkitan pembayaran fisik diharapkan, mereka yang tidak berevolusi untuk memenuhi kebutuhan pengguna semasa pandemi, akan berada pada posisi yang kurang menguntungkan. Mereka yang mampu ‘mendamaikan’ pengalaman digital dan fisik, akan dapat memenuhi serangkaian permintaan konsumen yang lebih luas, dan pada akhirnya lebih cocok untuk dunia pasca-COVID.

Apa yang bisa diharapkan pasar disisa dekade ini? Apa yang sangat Anda nantikan?

Ketika sisa dekade ini terungkap, saya mengantisipasi beberapa tren makro yang diperkuat oleh pandemi, seperti gig economy atau ekonomi pekerja lepas (informal), yang akan tetap ada. Saya juga berharap untuk melihat percepatan dalam perdagangan sosial dan penggabungan e-commerce serta pembayaran digital ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita akan melihat pengalaman fisik dan digital bekerja untuk saling melengkapi, yang pada akhirnya akan mengarah pada pengalaman yang lebih baik untuk semua.

Ketika bisnis terus menyadari bahwa no one-size-fits-all atau tidak ada satu ukuran untuk semua, ada didalam perilaku pembelian, kami akan terus melihat berbagai pilihan muncul. Penyederhanaan pilihan ini juga penting. Pilihan yang disajikan dengan cara yang cerdas akan terus meningkatkan pengalaman pengguna baik bagi penjual dan pembeli; dan saya menantikan kesempatan bagi kedua belah pihak untuk didukung dengan cara ini.

Kami juga akan terus melihat perkembangan, dan semoga pencapaian akhirnya, dari lanskap perdagangan yang sepenuhnya tanpa batas, yang memungkinkan pengalaman belanja lokal, di mana saja di dunia. Globalisasi bisnis yang terikat di Asia yang beroperasi di luar ekonomi domestik mereka, terlepas dari lokasi, adalah prospek yang sangat menarik bagi saya.

Follow the links for more news on

UNO Digital Bank menargetkan menjadi bank virtual terdepan di Filipina

CEO Manish Bhai mengatakan mereka ingin menjadi yang pertama dalam memenuhi kebutuhan keuangan nasabah Filipina.

DBS Hong Kong pamerkan seragam baru untuk merepresentasikan cabang yang lebih hijau

Bank membuat pernyataan tentang masa depan bukan melalui produk baru, tetapi dengan seragam.

Sektor keuangan dan perbankan Indonesia merupakan industri kedua yang paling banyak mendapat serangan siber

Lembaga keuangan diserang tiga kali lipat dari rata-rata global setiap minggu.

Investasi fintech Indonesia mencapai rekor tertinggi di semester pertama

Payment gateway Xendit mengumpulkan $300 juta dalam pendanaan Seri D untuk membantu menaikkan angka.

Thailand mengejar ketertinggalan keuangan hijau global

Bank menyerukan legislator untuk mengenakan pajak karbon dan tujuan taksonomi bersama.

DBS menunjuk Lim Chu Chong sebagai presiden direktur DBS Indonesia

Lim saat ini menjabat sebagai COO Institutional Banking Group DBS.

Home Credit Indonesia menyepakati pinjaman terkait ESG senilai $10 juta dengan Deutsche Bank

Pinjaman tersebut akan digunakan untuk meningkatkan inklusi dan literasi keuangan.

Data adalah kutukan sekaligus anugerah dalam upaya mengatasi kesenjangan investasi yang berkelanjutan

Menggunakan alat ini dengan cara yang benar adalah kunci untuk mendorong dan memenuhi tujuan ESG, kata Sisca Margaretta dari Experian.

LINE Bank Indonesia meluncurkan dua pinjaman digital baru

Pinjaman ini memiliki opsi pembayaran yang fleksibel.