, Singapore
768 views
Ashmita Acharya, head of Wealth and Personal Banking in Singapore, HSBC.

Bankir HSBC: Percayalah pada manusia, bukan hanya teknologi

Mengembangkan teknologi dan talenta harus berjalan beriringan, kata seorang bankir senior HSBC.

Bank-bank diimbau agar tidak terlalu terpaku pada teknologi terbaru yang sedang berkembang, tetapi lebih fokus pada pengembangan front dan back office serta talenta yang tepat. Hal ini disampaikan oleh seorang bankir HSBC kepada para peserta Asian Banking & Finance and Insurance Asia Summit 2024 di Singapura.

“Bank tidak bisa hanya memiliki aplikasi front dan end yang bagus bila mereka belum melalui perjalanan end-to-end. Dan jika bank belum melalui proses end-to-end tersebut maka mereka belum bisa memberikan pengalaman best-in-class kepada klien,” Ashmita Acharya, head of Wealth dan Personal Banking HSBC Singapura dalam sesi presentasinya kepada peserta forum di mana dia mendiskusikan cara untuk memperkuat proses dan talenta.

Diskusi ini penting di tengah munculnya teknologi baru dan optimisme akan kesempatan yang baru saat ini.

“Setiap hari akan ada teknologi, alat digital, dan data baru maupun hal-hal yang benar-benar baru. Sulit untuk terus mengikuti apa yang terjadi sekarang. Di dalam proses itu, kita sering kali lupa untuk tetap mengikuti pendekatan backend dan front-to-back,” katanya.

Acharya menekankan pentingnya memiliki pendekatan front-to-back dalam membuat model bisnis yang berskala.

Proses ini harus mempertimbangkan keberadaan manusia dalam bisnis yang tidak tergantikan, meskipun dengan munculnya AI generatif dan proses otomatisasi.

“Ketika kita berbicara tentang hyper-personalization, seberapa sering orang hanya mengonsumsi informasi melalui saluran digital? Tidak seperti itu. Mereka masih mencari keterlibatan hibrida. Mereka masih menginginkan sentuhan manusia untuk menyampaikan informasi dengan cara yang tepat,” kata  Acharya.

Acharya menegaskan perlunya menghadirkan "berbagai versi layanan klien" agar dapat menyampaikan informasi kepada semua klien dengan mempertimbangkan kebutuhan unik mereka.

Bagian dari memahami kebutuhan klien yang terus berubah adalah menyadari bahwa kebutuhan dan ekspektasi talenta juga telah mengalami transformasi.

“Talenta hari ini bukanlah talenta yang sama seperti dulu. Ketika saya masuk ke dunia perbankan 24 tahun lalu, kami bergabung karena perbankan menghasilkan banyak uang. Tapi itu bukan alasan orang bergabung dengan perbankan sekarang. Orang-orang melihat perbankan dengan cara yang sangat berbeda,” kata Acharya.

“Dulu, layanan keuangan menawarkan gaji yang jauh lebih tinggi. Sekarang, Gen Z dan milenial memiliki motivasi yang sangat berbeda. Membuat talenta muda tertarik menjadi bankir atau bankir pribadi sangatlah berbeda.  Kita harus membuat mereka begitu antusias, sehingga kita perlu memikirkan bagaimana menarik mereka serta membina talenta,” tambahnya.

HSBC telah meluncurkan program-program yang menargetkan talenta junior dengan pemahaman bahwa manajer produk di masa lalu bukanlah manajer produk di masa depan.

Sebagai contoh, generasi saat ini mungkin tidak membutuhkan banyak keahlian teknis yang bisa diselesaikan AI dengan lebih baik. Sebaliknya, keterampilan yang mereka butuhkan lebih pada bagaimana memanfaatkan AI dalam pekerjaan mereka serta memahami keberlanjutan.

“Kita perlu menemukan cara agar talenta tidak terjebak pada aspek pengalaman, melainkan benar-benar melihat sikap mereka dan bagaimana kita dapat membina talenta sepanjang perjalanan hidup mereka. Semakin serba bisa talenta tersebut, semakin baik mereka dalam menghadapi masa depan,” tambahnya.
 

Bank dan perusahaan asuransi ubah strategi aplikasi demi menjawab kebutuhan nyata pengguna

OCBC, Astra Life, BTN, dan ACA kini lebih menekankan kegunaan dan relevansi dibanding ambisi menjadi super app.

Kepercayaan kredit di Filipina tertahan di tengah kekhawatiran fraud

Nasabah menilai kartu kredit dan pinjaman pribadi sebagai produk berisiko.

Nasabah wealth beralih ke private market demi imbal hasil lebih tinggi

Perusahaan teknologi AS menjadi pendorong utama minat investasi, kata firma wealth digital StashAway.

CEO ZA Bank pertegas fokus pada wealth management dan aset digital

Bank digital ini berencana meluncurkan layanan perdagangan saham Hong Kong pada akhir tahun.

Hong Kong longgarkan aturan berbagi informasi untuk berantas fraud perbankan

Perubahan aturan ini memungkinkan bank berbagi data lebih luas tanpa khawatir risiko hukum.

GXS Bank perluas pembiayaan UMKM setelah akuisisi Validus

Bank digital ini juga membidik merchant Grab dan pelanggan Singtel untuk ekspansi pembiayaan.

BofA: Perusahaan ingin pembayaran lintas negara tanpa kerumitan teknologi

Koridor bilateral dinilai menciptakan tantangan baru meski menawarkan solusi.

Perusahaan kurangi penggunaan dokumen kertas, dorong percepatan transformasi trade finance

Onboarding yang cepat memungkinkan perusahaan beradaptasi lebih lincah saat perubahan tarif memaksa pergeseran pasar pemasok.

Bagaimana tokenisasi mengubah solusi manajemen kas?

HSBC dan Citi memungkinkan transfer dana 24/7 melalui teknologi ini.

Bank-bank Hong Kong kehilangan talenta terbaik akibat proses rekrutmen yang terlalu panjang

Perekrutan naik 2,5% di 15 bank berdasarkan survei tahunan Asian Banking & Finance.