, APAC
373 views
Photo courtesy of Austin Distel (Unsplash).

Pendanaan Fintech melambat karena hype digital yang didorong oleh COVID semakin memudar

Valuasi saham teknologi, baik publik maupun swasta, turun 60%, kata para analis.

Pendanaan fintech mencapai rekor pada 2021, dengan total investasi sebesar US$210 miliar dalam 5.684 kesepakatan  yang dikumpulkan selama setahun. Ini merupakan total tahunan tertinggi kedua yang pernah ada, menurut data dari KPMG. Namun setahun kemudian tren pasar investasi fintech global menurun. Pendanaan fintech global turun 33% kuartal-ke-kuartal mencapai US$20,4 miliar, yang merupakan level terendah sejak kuartal keempat 2020, berdasarkan laporan CB Insights..

Wilayah Asia Pasifik tidak terhindar, di mana selain beberapa pasar tertentu, sektor fintech melihat investasi yang disalurkan ke arah mereka menyusut pada paruh pertama 2022.

Ini bukan hanya masalah fintech, kata para analis kepada Asian Banking & Finance. Situasi pasar saham dan investasi yang bergejolak telah mendorong investor untuk mengambil jalan ke sidelines dan menjaga uang mereka tetap dekat saat ini. Fintech pun tak luput dari kehati-hatian ini.

“Ada tren penurunan yang konsisten pada 2022 di seluruh transaksi IPO, SPAC, dan M&A, tidak hanya pendanaan fintech. Investor yang menanggung kerugian dari penilaian pasar saham akan menjadi lebih selektif dalam melakukan investasi baru,” kata Tzu-Chung Liang, financial services strategy and transaction leader Asia Tenggara di EY, kepada Asian Banking & Finance dalam sebuah wawancara.

Secara khusus, kenaikan suku bunga dan ketakutan baru akan resesi mendorong investor untuk fokus terlebih dahulu pada fundamental bisnis dan lebih berhati-hati pada dana yang mereka masukkan, kata Anton Ruddenklau, Partner dan Global Head of Fintech, KPMG International.

“Kenaikan suku bunga untuk memerangi inflasi telah menambah biaya modal dan oleh karena itu membutuhkan pengembalian yang diperlukan atas modal itu. Ini telah mempertajam tekad investor untuk menargetkan perusahaan fintech yang lebih menguntungkan secara struktural, berada pada tahap selanjutnya dalam perjalanan pendanaan atau yang telah menunjukkan profitabilitas operasional post scaling,” kata Ruddenklau.

ALSO READ: How are superapps changing the digital banking landscape?

Ruddenklau mengatakan hype digital yang meningkat selama tahun-tahun karena COVID telah memudar, yang juga menurunkan valuasi saham teknologi hingga 60%.

“Sekali lagi, ini telah mengakibatkan investor mencari model bisnis teknologi yang berbeda, berinvestasi pada generasi perubahan sektoral berikutnya atau berfokus pada perusahaan dengan jalur yang jelas menuju profitabilitas. Transformasi unicorn berjalan tidak mulus karena investor mengambil pandangan yang lebih optimis daripada spekulatif tentang fundamental bisnis perusahaan fintech,” kata Ruddenklau menjelaskan.

Semakin meningkat

Kabar baiknya adalah keadaan pendanaan yang suram kemungkinan tidak akan bertahan lama, menurut para analis.

“Minat terhadap fintech di kawasan Asia Pasifik tetap kuat, terutama yang menargetkan pasar pertumbuhan seperti Cina dan Asia Tenggara,” kata Liang.

Ruddenklau juga memperkirakan pendanaan akan tumbuh seiring dengan meningkatnya inovasi teknologi keuangan selama tujuh tahun ke depan.

“Berdasarkan kondisi pasar, kami tetap memperkirakan pertumbuhan inovasi teknologi keuangan akan meningkat selama tujuh tahun ke depan, dengan ukuran pasar tiga kali lipat pada 2030, sekitar US$600 miliar pendanaan tahunan,” katanya.

Secara khusus, Ruddenklau mengidentifikasi tiga gelombang inovasi di sektor jasa keuangan: embedded finance, AI-enabled advice dan complex brokerage,  transformasi pengambilan risiko dan balance sheet-based manufacturing.

Di sisi lain, investor kemungkinan akan menjadi lebih selektif dengan tingkat suku bunga yang lebih tinggi yang kemungkinan tidak akan turun dalam waktu dekat, kata Liang.

Konektivitas

Konektivitas akan menjadi tema sentral di masa depan perbankan dan keuangan, membawa  investasi potensial dimana investor sendiri kemudian tidak akan mampu menahannya dalam jangka panjang.

Faktanya, meskipun pendanaan telah menurun pada 2022 dibandingkan tahun lalu, ada sektor fintech dan pasar yang terkena dampak positif karena perkembangan  pasar baru-baru ini, serta mengukuhkan posisinya sebagai “gelombang digitisasi berikutnya,” setelah COVID telah menandai “closure” putaran pertama digitisasi.

“Akan adil untuk mengatakan bahwa COVID mengakhiri sepuluh tahun digitalisasi layanan keuangan dengan fokus pada konektivitas. Hal ini termasuk pembayaran digital, mobile channel, open data, dan gelombang pertama blockchain,” kata Ruddenklau.

“Tahun ini, kami melihat beberapa sektor fintech terkena dampak positif dari koreksi pasar baru-baru ini. Sektor-sektor ini sangat selaras dengan gelombang digitisasi berikutnya dan termasuk Climate & Carbon, Physical Supply Chain, Agribusiness, Regtech, AI, Crypto Infrastructure dan Crypto Risk software,” katanya.

ALSO READ: Does the future of banking lie in the metaverse?

Outlier

Sementara sebagian besar pasar berada dalam tren menurun, beberapa negara di Asia Pasifik  sebenarnya berhasil tetap relatif stabil: seperti Singapura dan Indonesia, kata para analis.

"Singapura memegang posisinya dengan baik. Sebagai pusat tepercaya untuk pertumbuhan digitalisasi pasar Asia yang tinggi dan  cepat, ketekunan dalam mengembangkan ekosistem lintas batas yang terbuka membuahkan hasil," kata Ruddenklau.

Singapura melaporkan hasil pendanaan fintech “kuat” dalam enam bulan pertama tahun 2022. Ini sebagian besar berkat dorongan dalam pendanaan cryptocurrency, menurut Ruddenklau.

“Baik fintech maupun investor yang mencari peluang pertumbuhan Asia Tenggara kemungkinan akan melihat Singapura terlebih dahulu, sebagai titik masuk strategis. Banyak startup yang berkantor pusat di Singapura memiliki pasar utama di negara-negara Asia Tenggara,” tambahnya.

Dalam laporan terpisah, KPMG mengatakan bahwa Singapura bahkan menggandakan pangsa pasar globalnya berdasarkan nilai kesepakatan menjadi 6,4% pada kuartal kedua dari hanya 3,1% di sepanjang 2021. Pangsa pasar dalam hal jumlah kesepakatan secara global juga naik menjadi 5,1% dari 3,4%.

Nilai kesepakatan juga telah tumbuh hingga 10% menjadi rata-rata US$43,9 juta di Q2 22 dari US$39,8 juta di FY2021.

Tetangga Singapura, Indonesia juga melawan tren global untuk mencapai rekor nilai investasi tertinggi di paruh pertama tahun ini.

Menurut laporan penyedia layanan informasi Fintech Global, nilai investasi di Indonesia dari Januari hingga Juni 2022 telah melampaui tahun sebelumnya, dengan US$1,8 miliar dilaporkan di 51 transaksi pada 2022. Sebagai perbandingan, investasi sebesar US$1,6 miliar diterima oleh pelaku fintech Indonesia di sepanjang 2021.

Untuk setahun penuh, investasi fintech Indonesia diperkirakan akan mencapai US$3,6 miliar, sementara aktivitas kesepakatan di negara ini diperkirakan akan meningkat 5% mencapai 102 kesepakatan pada  2022.

Konsolidasi 

Tetapi meskipun beroperasi di pasar yang stabil seperti Singapura, beberapa fintech ternyata tidak bisa bertahan lama, kata para analis kepada Asian Banking & Finance.

“Ada lebih dari 1000 perusahaan fintech yang berbasis di Singapura, mewakili lebih dari dua pertiga pasar fintech ASEAN. Banyak yang belum layak secara komersial dalam jangka pendek atau menengah,” kata Ruddenklau.

“Sama halnya, investor kurang fokus pada pendanaan startup di fase awal dan lebih pada mendukung investasi tahap selanjutnya. Antara pendanaan startup dan perusahaan skala besar yang merugi, akuisisi akan sangat menarik,” kata dia menambahkan..

KPMG sekarang mengantisipasi konsolidasi untuk dikonsentrasikan pada gelombang terakhir fintech yaitu yang fokus pada hubungan bank-fintech.

“Beberapa fintech akan selalu dibiarkan gagal, terutama perusahaan crypto zombie dan yang lainnya akan diakuisisi oleh legacy institution untuk mendukung agenda inovasi mereka,” kata Ruddenklau.

Liang juga berpendapat yang sama, dan menambahkan bahwa pemain layanan keuangan saat ini akan menjadi orang-orang yang mengambil fintech dengan penawaran untuk melengkapi layanan digital mereka saat ini.

“Pemain jasa keuangan dan pemain ekosistem incumbent mungkin memiliki kesempatan untuk mulai mengakuisisi fintech untuk teknologi baru guna melengkapi produk yang ada dan meningkatkan pengalaman nasabah, sementara valuasi lebih bersahabat sekarang,” kata Liang.

Follow the links for more news on

Platform Buy Now Pay Later berisiko kehilangan kepercayaan ketika mengabaikan Kode Etik SFA

Di bawah Kode Etik, platform Buy Now Pay Later perlu menunjukkan kepada nasabah 'Trustmark' mereka.

DBS Hong Kong menawarkan kombo pinjaman instan dan kartu kredit two-in-one

Nasabah hanya perlu memindai HKID mereka untuk mendapatkan uang tunai dan kartu digital dalam satu aplikasi.

Analis: Bank Danamon Indonesia diperkirakan akan mencapai keuntungan $245 juta pada 2023

Sinergi dengan perusahaan induk MUFG akan membantu pertumbuhan pinjaman korporasi dan UKM.

Peraturan Buy Now, Pay Later memperkuat pencegahan utang dan literasi keuangan di Asia Pasifik

Filipina, Vietnam, dan Indonesia adalah negara yang lebih rentan terhadap risiko produk kredit, menurut laporan Euromonitor International.

Mengapa model perbankan universal tidak lagi berkelanjutan

Perubahan sikap nasabah dan berkurangnya hambatan untuk masuk telah mengubah cara peruntungan bank.

KASIKORNBANK membeli saham pengendali di Bank Maspion seharga $186,5 juta

Sekarang  perusahaan  memiliki 67,5% dari bank asal Indonesia tersebut.

Bagi fintech Prancis, Asia adalah tanah untuk peluang dan pembelajaran

Dibandingkan dengan Eropa, fintech di Asia telah mencapai keseimbangan dengan bank, kata Deputy CEO Bpifrance Arnaud Caudoux.

Bagaimana GCash menyudutkan ekonomi 'sachet' Filipina

Aplikasi ini memiliki lebih dari 66 juta pengguna di negara berpenduduk lebih dari 111 juta.

Mengapa platform hybrid adalah jawaban atas kesulitan yang dialami penasihat digital bank

Nasabah mencari confidence dan clarity dari penasihat keuangan.