, Indonesia
446 views

Indonesia mendapatkan pinjaman US$150 juta dari ADB untuk pembangunan berkelanjutan

Indonesia memiliki kesenjangan pembiayaan infrastruktur tahunan sekitar US$51 miliar.

Asian Development Bank (ADB) telah menyetujui pinjaman tahap pertama senilai US$150 juta bekerja sama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) untuk merumuskan dan merancang the Sustainable Development Goals Indonesia One–Green Finance Facility (SIO-GFF).

“SIO-GFF menyediakan dana untuk subproyek yang memenuhi aspek hijau, financial bankability, dan peningkatan target dengan tujuan mengkatalisasi dana dari sumber swasta, institusi, dan komersial,” kata Jiro Tominaga, Country Director ADB untuk Indonesia kepada Asian Banking and Finance .

Sub-proyek ini mencakup antara lain pasokan air, energi terbarukan, pengelolaan limbah, transportasi perkotaan yang berkelanjutan.

Tominaga mengatakan tantangan utama pemulihan hijau di Indonesia adalah skala pembiayaan yang dibutuhkan. “Masih ada kesenjangan pembiayaan infrastruktur tahunan sekitar US$51 miliar dengan rata-rata kebutuhan pembiayaan infrastruktur tahunan Indonesia mencapai US$74 miliar selama periode 2016-2020.”

Tominaga menambahkan bahwa teknologi yang diperlukan dan arus masuk modal dari sumber komersial tidak tersedia, karena persepsi risiko dari proyek-proyek yang mendasarinya telah memburuk pada proyeksi pendapatannya karena dampak pandemi.

Selain itu, kurangnya proyek infrastruktur hijau yang bankable, yaitu proyek hijau dengan arus kas yang memenuhi rasio minimum cakupan layanan utang, dan terbatasnya kapasitas sponsor proyek dan pemberi pinjaman di Indonesia untuk mengembangkan solusi keuangan inovatif untuk mitigasi risiko proyek yang lebih baik.

Untuk membantu menjawab tantangan di atas, proyek SIO-GFF akan melakukan katalisasi keuangan untuk mendukung pemulihan ekonomi Indonesia pasca COVID-19 dengan fokus pada infrastruktur berkelanjutan, crowding in capital, dan penciptaan lapangan kerja.

SIO-GFF akan membiayai sub-proyek menggunakan kriteria kelayakan sub-proyek dan sub-peminjam yang telah ditentukan sebelumnya, melalui dua jendela khusus: (i) Jendela Hijau, dan (ii) SDGs untuk Jendela Pemulihan COVID-19 yang Mendesak. Jendela Hijau akan mendukung subproyek hijau dengan menggunakan setidaknya 70% dari hasil pinjaman ADB untuk membiayai subproyek, dan SDGs untuk Jendela Pemulihan COVID-19 yang Mendesak akan menggunakan maksimum 30% dari hasil pinjaman ADB untuk membiayai subproyek yang berdampak pada SDGs.

Follow the link for more news on

Bank dan perusahaan asuransi ubah strategi aplikasi demi menjawab kebutuhan nyata pengguna

OCBC, Astra Life, BTN, dan ACA kini lebih menekankan kegunaan dan relevansi dibanding ambisi menjadi super app.

Kepercayaan kredit di Filipina tertahan di tengah kekhawatiran fraud

Nasabah menilai kartu kredit dan pinjaman pribadi sebagai produk berisiko.

Nasabah wealth beralih ke private market demi imbal hasil lebih tinggi

Perusahaan teknologi AS menjadi pendorong utama minat investasi, kata firma wealth digital StashAway.

CEO ZA Bank pertegas fokus pada wealth management dan aset digital

Bank digital ini berencana meluncurkan layanan perdagangan saham Hong Kong pada akhir tahun.

Hong Kong longgarkan aturan berbagi informasi untuk berantas fraud perbankan

Perubahan aturan ini memungkinkan bank berbagi data lebih luas tanpa khawatir risiko hukum.

GXS Bank perluas pembiayaan UMKM setelah akuisisi Validus

Bank digital ini juga membidik merchant Grab dan pelanggan Singtel untuk ekspansi pembiayaan.

BofA: Perusahaan ingin pembayaran lintas negara tanpa kerumitan teknologi

Koridor bilateral dinilai menciptakan tantangan baru meski menawarkan solusi.

Perusahaan kurangi penggunaan dokumen kertas, dorong percepatan transformasi trade finance

Onboarding yang cepat memungkinkan perusahaan beradaptasi lebih lincah saat perubahan tarif memaksa pergeseran pasar pemasok.

Bagaimana tokenisasi mengubah solusi manajemen kas?

HSBC dan Citi memungkinkan transfer dana 24/7 melalui teknologi ini.

Bank-bank Hong Kong kehilangan talenta terbaik akibat proses rekrutmen yang terlalu panjang

Perekrutan naik 2,5% di 15 bank berdasarkan survei tahunan Asian Banking & Finance.