, Indonesia
224 views

Indonesia mendapatkan pinjaman US$150 juta dari ADB untuk pembangunan berkelanjutan

Indonesia memiliki kesenjangan pembiayaan infrastruktur tahunan sekitar US$51 miliar.

Asian Development Bank (ADB) telah menyetujui pinjaman tahap pertama senilai US$150 juta bekerja sama dengan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) untuk merumuskan dan merancang the Sustainable Development Goals Indonesia One–Green Finance Facility (SIO-GFF).

“SIO-GFF menyediakan dana untuk subproyek yang memenuhi aspek hijau, financial bankability, dan peningkatan target dengan tujuan mengkatalisasi dana dari sumber swasta, institusi, dan komersial,” kata Jiro Tominaga, Country Director ADB untuk Indonesia kepada Asian Banking and Finance .

Sub-proyek ini mencakup antara lain pasokan air, energi terbarukan, pengelolaan limbah, transportasi perkotaan yang berkelanjutan.

Tominaga mengatakan tantangan utama pemulihan hijau di Indonesia adalah skala pembiayaan yang dibutuhkan. “Masih ada kesenjangan pembiayaan infrastruktur tahunan sekitar US$51 miliar dengan rata-rata kebutuhan pembiayaan infrastruktur tahunan Indonesia mencapai US$74 miliar selama periode 2016-2020.”

Tominaga menambahkan bahwa teknologi yang diperlukan dan arus masuk modal dari sumber komersial tidak tersedia, karena persepsi risiko dari proyek-proyek yang mendasarinya telah memburuk pada proyeksi pendapatannya karena dampak pandemi.

Selain itu, kurangnya proyek infrastruktur hijau yang bankable, yaitu proyek hijau dengan arus kas yang memenuhi rasio minimum cakupan layanan utang, dan terbatasnya kapasitas sponsor proyek dan pemberi pinjaman di Indonesia untuk mengembangkan solusi keuangan inovatif untuk mitigasi risiko proyek yang lebih baik.

Untuk membantu menjawab tantangan di atas, proyek SIO-GFF akan melakukan katalisasi keuangan untuk mendukung pemulihan ekonomi Indonesia pasca COVID-19 dengan fokus pada infrastruktur berkelanjutan, crowding in capital, dan penciptaan lapangan kerja.

SIO-GFF akan membiayai sub-proyek menggunakan kriteria kelayakan sub-proyek dan sub-peminjam yang telah ditentukan sebelumnya, melalui dua jendela khusus: (i) Jendela Hijau, dan (ii) SDGs untuk Jendela Pemulihan COVID-19 yang Mendesak. Jendela Hijau akan mendukung subproyek hijau dengan menggunakan setidaknya 70% dari hasil pinjaman ADB untuk membiayai subproyek, dan SDGs untuk Jendela Pemulihan COVID-19 yang Mendesak akan menggunakan maksimum 30% dari hasil pinjaman ADB untuk membiayai subproyek yang berdampak pada SDGs.

Follow the link for more news on

UNO Digital Bank menargetkan menjadi bank virtual terdepan di Filipina

CEO Manish Bhai mengatakan mereka ingin menjadi yang pertama dalam memenuhi kebutuhan keuangan nasabah Filipina.

DBS Hong Kong pamerkan seragam baru untuk merepresentasikan cabang yang lebih hijau

Bank membuat pernyataan tentang masa depan bukan melalui produk baru, tetapi dengan seragam.

Sektor keuangan dan perbankan Indonesia merupakan industri kedua yang paling banyak mendapat serangan siber

Lembaga keuangan diserang tiga kali lipat dari rata-rata global setiap minggu.

Investasi fintech Indonesia mencapai rekor tertinggi di semester pertama

Payment gateway Xendit mengumpulkan $300 juta dalam pendanaan Seri D untuk membantu menaikkan angka.

Thailand mengejar ketertinggalan keuangan hijau global

Bank menyerukan legislator untuk mengenakan pajak karbon dan tujuan taksonomi bersama.

DBS menunjuk Lim Chu Chong sebagai presiden direktur DBS Indonesia

Lim saat ini menjabat sebagai COO Institutional Banking Group DBS.

Home Credit Indonesia menyepakati pinjaman terkait ESG senilai $10 juta dengan Deutsche Bank

Pinjaman tersebut akan digunakan untuk meningkatkan inklusi dan literasi keuangan.

Data adalah kutukan sekaligus anugerah dalam upaya mengatasi kesenjangan investasi yang berkelanjutan

Menggunakan alat ini dengan cara yang benar adalah kunci untuk mendorong dan memenuhi tujuan ESG, kata Sisca Margaretta dari Experian.

LINE Bank Indonesia meluncurkan dua pinjaman digital baru

Pinjaman ini memiliki opsi pembayaran yang fleksibel.