Otomasi menahan laju perekrutan di bank-bank besar Singapura
Bank juga mempercepat peningkatan keterampilan tenaga kerja agar selaras dengan perkembangan teknologi.
Jumlah karyawan di perbankan Singapura pada tahun lalu cenderung stagnan, bahkan sebagian mengalami penurunan, seiring penerapan otomasi yang mendorong efisiensi operasional. Sejumlah bank melakukan pengurangan tenaga kerja, sementara lainnya memilih membatasi perekrutan hanya pada posisi strategis seperti relationship manager dan talenta teknologi.
Sebanyak 15 bank yang masuk dalam survei pemeringkatan bank tahun ini tercatat mempekerjakan sekitar 54.000 orang hingga akhir 2024. Jumlah tersebut turun 1,79% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Bank of China mencatat penurunan tenaga kerja terbesar, yakni 13% atau setara 855 karyawan. Sebaliknya, Credit Agricole Corporate and Investment Bank justru menambah 314 pekerja sehingga total karyawannya menjadi 2.000 orang, meningkat 18% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam pergeseran posisi di antara bank-bank utama, Oversea-Chinese Banking Corp. Ltd. (OCBC) berhasil melampaui United Overseas Bank Ltd. United Overseas Bank Ltd. (UOB) untuk menempati posisi kedua dengan total 10.714 karyawan. UOB tercatat memiliki sekitar 600 karyawan lebih sedikit dalam daftar payroll-nya, sementara OCBC sendiri mengalami pengurangan sebanyak 225 pekerja.

OCBC mencatat adanya perubahan ekspektasi nasabah serta perkembangan teknologi yang turut memengaruhi strategi tenaga kerja mereka.
“Dari 2018 hingga 2025, kami telah mengalokasikan lebih dari US$80 juta untuk pengembangan dan mobilitas karyawan,” kata Ernest Phang, Managing Director Group Human Resources OCBC, kepada Singapore Business Review.
Investasi tersebut mencakup peluang pertumbuhan karier dan mobilitas pekerjaan bagi karyawan, di luar program reskilling dan upskilling. “Saat ini, kami menawarkan lebih dari 29.000 program di seluruh OCBC,” ujarnya melalui jawaban tertulis.
OCBC menegaskan bahwa bank tetap aktif mencari talenta yang dapat memberikan nilai tambah sekaligus selaras dengan kebutuhan organisasi. “Aktivitas rekrutmen di berbagai divisi bank dilakukan sesuai area pertumbuhan yang telah diidentifikasi, dan perekrutan dilakukan ketika kebutuhan muncul.”
Sejalan dengan OCBC, Maybank Singapore menyebut pihaknya terus mendorong pengembangan talenta internal.
“Kami memperkirakan perekrutan akan lebih terfokus pada lini bisnis yang terkait transformasi digital, analitik data, keamanan siber, inovasi pengalaman nasabah, kepatuhan, wealth management, dan perbankan global,” kata Wong Keng Fye, Head of Human Capital Maybank Singapore.
Bank ini, yang induknya Malayan Banking Bhd merupakan bank terbesar di Malaysia berdasarkan aset, menambah 113 karyawan sehingga total tenaga kerjanya mencapai 2.277 orang—kenaikan tercepat kedua setelah Credit Agricole.
Menurut Wong, prioritas perekrutan tahun ini berpusat pada bidang digital, data, dan teknologi. “Teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI), cloud, dan analitik big data sedang membentuk ulang keterampilan yang kami prioritaskan.”
Sementara itu, HSBC Holdings Plc, yang jumlah karyawannya naik 1,2% menjadi 3.990 orang, menyebut wealth management dan digital banking sebagai bagian inti strategi bisnis sekaligus prioritas sumber daya manusia.
“Dalam wealth management, yang tetap menjadi pendorong pertumbuhan HSBC di Asia, kami terus fokus pada posisi yang berhadapan langsung dengan nasabah, manajemen relasi, dan layanan pelanggan untuk mendukung ambisi kami menjadi wealth manager terdepan di Asia,” kata Mukul Anand, Head of HR HSBC Singapore.
RHB Singapore juga menyatakan tengah memperbanyak perekrutan relationship manager.
“Area fokus utama kami adalah retail banking, di mana kami memperkirakan pertumbuhan berlanjut, khususnya melalui perekrutan relationship manager untuk mendukung produk wealth sebagai bagian dari strategi ekspansi,” kata Jensong Tng, Head of Human Resources RHB Singapore.
Ia menambahkan, bank juga memprioritaskan talenta dengan keahlian di bidang kepatuhan regulasi, kejahatan keuangan, manajemen risiko, dan treasury, terutama yang memiliki pengalaman lintas negara serta kemampuan dalam transformasi proses digital.
Baik HSBC maupun RHB menilai kebutuhan akan layanan perbankan digital yang real-time, sangat personal, dan tanpa hambatan semakin meningkat.
Menurut Anand dari HSBC, ekspektasi nasabah terhadap pengalaman perbankan yang hyper-personalised dan frictionless, dipadukan dengan kemudahan digital, mendorong kebutuhan akan talenta yang melek digital.
“Ekspektasi ganda ini membentuk pendekatan kami dalam merekrut talenta yang digital savvy, terutama di wholesale banking, di mana kami memiliki platform transaction banking yang memimpin pasar,” ujarnya.
Di sisi lain, RHB mengatakan pihaknya berinvestasi pada talenta yang dapat mengembangkan otomasi cerdas, infrastruktur cloud, dan solusi perbankan berkelanjutan.
“Kami memberikan penekanan lebih besar pada pengembangan talenta internal, terutama untuk peran yang mendukung digital enablement, keunggulan layanan nasabah, dan keberlanjutan,” kata Tng. Hal ini termasuk program upskilling terstruktur di bidang analitik data dan perbankan lintas negara.
Di tengah fokus bank pada perekrutan dan peningkatan keterampilan untuk mengikuti kemajuan teknologi, teknologi juga disebut sebagai faktor yang mendorong peningkatan pemutusan hubungan kerja, menurut pakar rekrutmen.
“Terjadi peningkatan PHK akibat perubahan struktur industri perbankan,” kata Serena Fernando, Senior Consultant Banking and Financial Services di Robert Walters Singapore.
Menurutnya, perkembangan AI dan otomasi menuntut pekerja untuk meningkatkan keterampilan dan mengambil peran yang lebih kompleks.
“Untuk posisi layanan pelanggan, kami sudah melihat penggunaan chatbot, sehingga jumlah perekrutan di fungsi tersebut menurun, bahkan beberapa bank melakukan pengurangan tenaga kerja dalam skala besar,” tambahnya.
Zona Ekonomi Khusus Johor-Singapore serta kenaikan tarif Amerika Serikat disebut berpotensi menjadi sentimen positif bagi pencari kerja di sektor perbankan Singapura.
“Kawasan ini memang baru diluncurkan, tetapi sejumlah institusi perbankan sudah membahas potensi sinergi,” ujar Fernando.
Enam institusi keuangan dilibatkan untuk mendukung pertumbuhan investasi di zona tersebut, yakni Bank of America Corp., HSBC, Sumitomo Mitsui Banking Corp., CGS International Securities Singapore Pte. Ltd., Maybank, dan CIMB.
“Ini bisa berarti lebih banyak pekerjaan operasional atau manual yang dipindahkan ke area tersebut, atau peran dukungan teknis level awal,” katanya.
Ketidakpastian perdagangan global akibat tarif AS juga dinilai dapat mendorong perusahaan, termasuk bank, memindahkan sebagian fungsi dari Hong Kong ke Singapura sebagai langkah mitigasi risiko geopolitik.
“Sebagian klien memilih mempertahankan operasi di Hong Kong, tetapi memperluas kehadiran di Singapura sebagai kantor kedua di Asia-Pasifik untuk alasan kontinjensi bisnis, sekaligus sebagai gerbang menuju peluang investasi di Asia Tenggara,” jelas Fernando.
Sementara itu, Ken Ong, Managing Director Morgan McKinley Singapore, mengatakan bank-bank di Singapura kini cenderung menahan perekrutan seiring perusahaan berupaya menjaga likuiditas.
“Bahkan penggantian karyawan pun tidak sebanding dengan tingkat attrition,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa dari dua orang yang resign, biasanya hanya satu posisi yang digantikan.
Ong memperkirakan aktivitas perekrutan bank akan melambat tahun ini, meski beberapa posisi tetap diminati seperti relationship manager, wealth management, dan family office.
“Bank-bank besar global tidak merekrut sebanyak sebelumnya. Namun, bank lapis kedua, khususnya bank-bank Asia, masih memiliki minat untuk perekrutan strategis,” ujarnya.
Ia menambahkan, bank lapis kedua tetap mencari tenaga spesialis untuk memperkuat keamanan siber, investasi cloud, dan analitik data.
Menurut Ong, sebagian besar perekrutan kini terbatas pada pekerja kontrak dan peran berbasis proyek, seiring proyeksi pertumbuhan ekonomi Singapura yang cenderung datar tahun ini.
“Ketika melihat proyeksi seperti itu, perusahaan cenderung menahan diri untuk merekrut pengganti,” katanya. “Banyak bank juga ingin menjaga kelincahan arus kas dan memastikan ada bantalan keuangan.”
“Tantangan utama di pasar saat ini adalah semua pihak bertindak sangat hati-hati,” tambahnya.
Ia juga mencatat adanya pergeseran tren tenaga kerja, dari banker yang sebelumnya berpindah ke fintech, hingga relokasi peran dari Hong Kong ke Singapura.
Di sisi lain, perusahaan semakin banyak menggunakan skema kontrak untuk menilai kinerja karyawan sebelum menawarkan posisi permanen.
“Sebagian besar klien terbuka menggunakan jalur kontrak untuk memvalidasi performa.”
Menariknya, pekerja baru pun kini cenderung memilih pekerjaan kontrak untuk mengeksplorasi jalur karier yang sesuai.
“Berbeda dengan dulu ketika orang diminta menjadi spesialis sejak awal karier, sekarang mereka lebih memilih mendapatkan berbagai pengalaman terlebih dahulu sebelum menentukan spesialisasi,” tutup Ong.