Bagaimana Bank-Bank memperkuat pondasi terhadap guncangan harga minyak?
Bank-bank asal China kemungkinan besar akan menanggung dampak paling besar.
Bank-bank Asia-Pasifik (APAC) memiliki eksposur langsung yang relatif terbatas terhadap Timur Tengah, namun konflik yang berkepanjangan dapat meningkatkan kerugian kredit hingga 25%, atau sekitar $180 miliar.
Sebagian besar bank diperkirakan mampu bertahan dari tekanan yang ada hingga akhir Mei, dengan asumsi tercapainya kesepakatan untuk meredakan blokade efektif di Selat Hormuz, menurut sebuah laporan S&P Global Ratings.
Jika konflik terus berlanjut, negara-negara seperti Vietnam, Indonesia, dan India dapat mengalami peningkatan kerugian kredit.
Sektor perbankan China diperkirakan akan menanggung dampak terbesar, dengan estimasi kerugian tambahan sekitar $130 miliar, mengingat skala sektor tersebut.
Pembiayaan non-bank—khususnya pembiayaan dana (fund finance)—juga diperkirakan akan tetap menjadi area yang menjadi perhatian utama investor pada 2026, terutama di kalangan dana-dana asal Amerika Serikat, di mana ketidakpastian mengenai kualitas aset dan valuasi sektor perangkat lunak masih terus berlanjut.
Sementara itu, kecerdasan buatan diperkirakan akan secara signifikan membentuk ulang profil kredit lembaga-lembaga keuangan di kawasan ini dalam satu hingga lima tahun mendatang, meskipun dampaknya akan berbeda-beda.
Bank-bank besar yang berdampak sistemik penting di kawasan APAC dipandang berada dalam posisi yang lebih kuat, berkat anggaran teknologi mereka yang besar, yang memungkinkan mereka meningkatkan efisiensi dan membuka peluang pendapatan baru.
Asian Banking & Finance menghubungi para pakar dari BDO Unibank, Inc. (Filipina) dan Natixis, untuk mengetahui secara persis bagaimana bank-bank tengah bersiap menghadapi potensi kerugian pinjaman di tengah lonjakan harga minyak.

Luis S. Reyes, executive vice president and head of Investor Relations, BDO Unibank, Inc. (Philippines):
Luis S. Reyes, executive vice president and head of Investor Relations, BDO Unibank, Inc. (Filipina):
“Dengan harga energi yang tetap tinggi dan volatilitas yang terus meningkat di seluruh Asia, penting untuk tetap menempatkan dampaknya dalam perspektif yang tepat.
Sejauh ini, guncangan energi terutama dirasakan oleh rumah tangga dan dunia usaha melalui biaya operasional yang lebih tinggi dan arus kas yang semakin ketat.
Dampak lanjutan (knock-on impact) terhadap bank cenderung baru muncul belakangan dan sebagian besar ditentukan oleh berapa lama tekanan-tekanan ini berlangsung. Karena itu, mungkin masih terlalu dini untuk mengasumsikan akan terjadi kerugian kredit besar di seluruh sistem perbankan. Kualitas aset tetap stabil hingga saat ini, dan banyak peminjam masih menyesuaikan diri melalui perubahan harga, kendali biaya, atau penyangga finansial yang sudah ada. Meski demikian, kami tetap merencanakan langkah ke depan.
Pendekatan kami adalah memperkuat ketahanan sejak dini, alih-alih menunggu kondisi memburuk. Kami terus mempertahankan penyangga likuiditas dan modal yang kuat, sehingga memberi kami fleksibilitas apabila kenaikan harga minyak menyebabkan kondisi finansial yang lebih ketat atau arus kas peminjam yang lebih lemah.
Penyangga-penyangga ini merupakan bagian dari kerangka risiko normal kami dan dirancang untuk membantu kami beroperasi melalui berbagai skenario ekonomi, tidak hanya pada masa-masa tertekan. Meskipun kualitas aset tetap sehat, kami telah mengambil sikap yang hati-hati dan berorientasi ke depan dengan meningkatkan provisi guna mempersiapkan potensi tekanan dari biaya energi tinggi dan inflasi yang berkepanjangan.
Ini mencerminkan perencanaan yang disiplin, bukan kelemahan material apa pun pada portofolio pinjaman kami saat ini. Kami juga telah memperketat standar penjaminan (underwriting) sejak tahun lalu, khususnya dalam pinjaman konsumen, dan sejak dimulainya konflik di Iran, kami telah meningkatkan pemantauan portofolio—terutama di sektor-sektor yang lebih terpapar tekanan biaya yang berkelanjutan.
Sebagai bank yang berdampak sistemik penting di kawasan ini, prioritas kami adalah tetap stabil, likuid, dan dapat diprediksi sepanjang siklus ekonomi—memastikan kami siap apabila tekanan-tekanan awal ini pada akhirnya berkembang menjadi tekanan finansial yang lebih luas, sembari terus mendukung para klien kami dan aktivitas ekonomi di seluruh pasar kami.”

Alicia Garcia-Herrero, chief economist untuk Asia-Pasifik di Natixis:
“Harga energi yang tetap tinggi secara terus-menerus telah bergeser dari sekadar ketidaknyamanan makroekonomi menjadi uji tekanan (stress test) sistemik bagi perbankan regional.
Seiring margin industri yang menyusut dan pendapatan disposabel rumah tangga yang tergerus, risiko kredit yang tertanam dalam portofolio pinjaman—khususnya di ekonomi-ekonomi yang padat energi—kini mengkristal menjadi sesuatu yang tidak lagi dapat dikelola bank hanya di batas-batas kecil. Pertanyaannya bukan lagi apakah provisi perlu dinaikkan, melainkan seberapa besar, dan seberapa cepat.
Pendekatan kami adalah bergerak lebih awal dan bergerak secara sengaja. Selama delapan belas bulan terakhir, kami telah secara material meningkatkan provisi kerugian kredit yang diperkirakan (expected credit loss provisions) di segmen-segmen portofolio yang paling terpapar: UKM di sektor manufaktur, penyewa properti komersial dengan beban utilitas yang tinggi, serta rumah tangga di kelompok berpendapatan rendah yang memiliki KPR bersuku bunga mengambang. Secara keseluruhan, kami telah menyisihkan cadangan kerugian sekitar 40% lebih besar dibandingkan basis sebelum terjadinya guncangan energi, angka yang mencerminkan baik pemodelan penurunan kualitas maupun overlay manajemen yang disengaja untuk risiko ekor (tail risk).
Di luar provisi, kami juga telah memperketat standar penjaminan pada pinjaman baru ke sektor-sektor di mana penyaluran biaya energi (pass-through) secara struktural terbatas. Sebuah perusahaan keramik atau operator cold-storage kini menghadapi profil risiko yang secara fundamental berbeda dibandingkan tiga tahun lalu, dan komite-komite kredit kami telah memperbarui penilaian sektoral mereka sesuai dengan itu. Kami juga telah melakukan uji tekanan pada portofolio kami terhadap skenario di mana harga energi tetap tinggi untuk dua hingga tiga tahun ke depan—skenario yang, sayangnya, tidak lagi tampak mustahil.
Dari sisi permodalan, kami secara sengaja telah memperlambat pertumbuhan dividen dan mempertahankan porsi laba yang lebih besar guna membangun penyangga Common Equity Tier 1 di atas ambang minimum regulasi. Ini bukanlah keputusan yang populer bagi sejumlah pemegang saham, namun ini adalah keputusan yang tepat. Bank yang membagikan modal secara royal hari ini dan kelabakan mencari rekapitalisasi delapan belas bulan kemudian merupakan hasil yang lebih buruk bagi semua pihak.
Kami juga bekerja sama secara erat dengan klien-klien yang tengah mengalami kesulitan, alih-alih langsung beralih ke tindakan penegakan (enforcement). Restrukturisasi dan modifikasi pinjaman—jika dilakukan dengan tepat, disertai rencana pemulihan yang realistis—dapat mempertahankan nilai yang lebih besar bagi bank dibandingkan gelombang penjualan paksa ke pasar aset yang lemah. Ini bukan sekadar kelonggaran (forbearance) demi kelonggaran itu sendiri; ini adalah manajemen kredit yang sehat.
Penilaian jujur yang lebih luas adalah ini: sektor ini memiliki permodalan yang lebih baik dibandingkan pada 2008, namun sikap berpuas diri akan berbahaya. Harga energi merupakan pelarut yang bergerak lambat namun kuat, yang perlahan menggerogoti kualitas kredit, dan bank-bank yang akan bertahan pada siklus berikutnya adalah mereka yang menilai risiko tersebut secara jujur—dan bertindak sejak dini.”