, APAC
619 views
Freepik.

Kerangka pembayaran SWIFT targetkan kejelasan biaya dan penelusuran transaksi yang lebih cepat

Lebih dari 50 bank mendukung perubahan yang memanfaatkan sistem yang sudah ada.

Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) berencana meningkatkan transparansi pembayaran lintas negara melalui sebuah kerangka pembayaran yang memperjelas biaya dan pelacakan transaksi, tanpa mengharuskan bank membangun infrastruktur pembayaran tambahan.

“Perubahan besarnya adalah kini kita memiliki aturan yang jelas, peran yang jelas, dan service level yang bersifat wajib, yang menyelaraskan seluruh rantai nilai (value chain),” kata Sharon Toh, head of ASEAN SWIFT, kepada Asian Banking & Finance.

“Manfaat langsung bagi nasabah adalah tidak ada lagi kejutan-kejutan, dengan biaya yang jelas, hasil yang dapat diprediksi, serta keterlacakan menyeluruh (end-to-end) sejak momen mereka memulai sebuah pembayaran,” ujarnya melalui Zoom.

Menurut perusahaan tersebut, lebih dari 75% pembayaran di jaringan SWIFT sudah sampai ke bank penerima dalam waktu 10 menit. Namun, masih terdapat celah terkait visibilitas biaya yang dikenakan sepanjang jalur transaksi serta informasi real-time mengenai posisi dana selama proses berlangsung.

Lebih dari 50 bank mendukung kerangka pembayaran ini, yang diumumkan SWIFT pada September 2025. Kelompok pertama yang terdiri dari 25 bank dijadwalkan mulai beroperasi (go live) pada akhir Juni, menandai fase awal adopsi.
Bank-bank yang terlibat mulai bekerja sama dengan SWIFT tak lama setelah konferensi Sibos untuk menyepakati aturan dan standar layanan yang bertujuan meningkatkan pengalaman pembayaran konsumen. Buku aturan (rulebook) pertama dirilis pada Januari 2026, empat bulan setelah kerangka ini diumumkan.

Pasar yang masuk dalam peluncuran tahap awal antara lain Australia, Bangladesh, Kanada, Tiongkok, Jerman, India, Pakistan, Spanyol, Thailand, Inggris, dan Amerika Serikat. SWIFT menyebutkan, mengutip data Bank Dunia, bahwa Bangladesh, Tiongkok, Jerman, Pakistan, dan India termasuk di antara 10 negara penerima remitansi terbesar di dunia.

Tingkat adopsi diperkirakan akan bervariasi tergantung institusi dan koridor transaksi. Menurut SWIFT, implementasinya akan bergantung pada prioritas masing-masing bank, kesiapan pada jalur-jalur tertentu, serta kondisi pasar domestik.

Salah satu fokus desain kerangka ini adalah pemanfaatan sistem pembayaran instan domestik untuk memperbaiki tahap akhir dari sebuah transfer lintas negara. Pendekatan ini memungkinkan dana dapat dikreditkan ke nasabah akhir lebih cepat begitu sampai di pasar tujuan.

Prioritas lainnya adalah keselarasan dengan target yang ditetapkan oleh Kelompok 20 (G20) untuk meningkatkan kecepatan dan menekan biaya pembayaran lintas negara. Sekitar tiga perempat pembayaran SWIFT saat ini sudah memenuhi target tersebut, dengan dana dikreditkan dalam waktu 10 menit, dan kerangka ini bertujuan untuk terus meningkatkan porsi tersebut.

“Yang secara eksplisit diatasi oleh kerangka ini adalah celah-celah yang ada di tahap awal (front end) dan di tahap akhir domestik ketika kita berbicara soal pembayaran lintas negara,” kata Toh.

Jalur pembayaran tambahan diperkirakan akan ditambahkan sebelum akhir tahun sebagai bagian dari peluncuran bertahap, dengan partisipasi yang terus meluas seiring semakin banyak bank yang menyelesaikan proses implementasi.
 

Follow the link for more news on

Bagaimana Bank-Bank memperkuat pondasi terhadap guncangan harga minyak?

Bank-bank asal China kemungkinan besar akan menanggung dampak paling besar.

Kerangka pembayaran SWIFT targetkan kejelasan biaya dan penelusuran transaksi yang lebih cepat

Lebih dari 50 bank mendukung perubahan yang memanfaatkan sistem yang sudah ada.

Bank-bank Jepang taruh miliaran dolar untuk dorong pertumbuhan keuangan dan teknologi India

GFTN menggandeng kedua belah pihak dalam bidang talenta, teknologi, dan akses pasar.

Dompet digital dan AI agentic dorong percepatan pembayaran

Fokusnya tertuju pada sistem agentic yang dapat bertindak atas nama pengguna.

Indonesian banks' strong profits hide widening lending gap

Terdapat pula jurang antara pertumbuhan pinjaman bank yang tinggi dan pertumbuhan pendapatan bunga yang rendah.

BTN perluas bisnis melampaui KPR ke ranah perbankan ritel

Wealth management menjadi bagian kunci dari transformasi ini.

Maybank Indonesia beralih ke strategi kredit yang lebih selektif

Bank yang tercatat di bursa ini ingin memastikan pertumbuhan tetap disiplin dan tangguh.

Bank dan perusahaan asuransi ubah strategi aplikasi demi menjawab kebutuhan nyata pengguna

OCBC, Astra Life, BTN, dan ACA kini lebih menekankan kegunaan dan relevansi dibanding ambisi menjadi super app.

Kepercayaan kredit di Filipina tertahan di tengah kekhawatiran fraud

Nasabah menilai kartu kredit dan pinjaman pribadi sebagai produk berisiko.