Bank-bank Jepang taruh miliaran dolar untuk dorong pertumbuhan keuangan dan teknologi India
GFTN menggandeng kedua belah pihak dalam bidang talenta, teknologi, dan akses pasar.
India dan Jepang kini semakin terhubung melalui aliran modal dan teknologi, seiring bank-bank Jepang menyalurkan dana jangka panjang ke salah satu pasar teknologi dan keuangan yang bergerak paling cepat di Asia.
Daya tariknya cukup jelas. Jepang membawa cadangan modal yang besar, regulasi yang konservatif, serta institusi yang dipercaya investor global. India menawarkan skala, biaya yang lebih rendah, dan kesiapan untuk menguji model keuangan digital secara cepat. Bersama-sama, keduanya membentuk apa yang oleh para pelaku keuangan disebut sebagai koridor fungsional, bukan aliansi formal.
“Jepang kuat, sudah maju, dan mapan dengan basis modal yang kuat,” kata Sopnendu Mohanty, group CEO Global Finance & Technology Network Pte Ltd. (GFTN), kepada Asian Banking & Finance. “India adalah fondasi bagi inovasi, pertumbuhan, dan inklusi. Ketika keduanya dipertemukan—institusi, regulator, blok ini—mereka menciptakan koridor yang menarik.”
Para pemberi pinjaman Jepang mulai menempatkan taruhan besar. Sumitomo Mitsui Banking Corp. (SMBC) membayar sekitar $1,6 miliar untuk kepemilikan saham 20% di Yes Bank pada Mei 2025, dan menambah 4% saham lagi beberapa bulan kemudian. Mitsubishi UFJ Financial Group, Inc. (MUFG), bank terbesar Jepang berdasarkan aset, menginvestasikan $4,3 miliar untuk kepemilikan saham 20% di Shriram Finance Ltd., lender yang fokus pada pinjaman kendaraan dan pinjaman bernilai kecil.
Kesepakatan-kesepakatan ini menegaskan bagaimana institusi Jepang memanfaatkan India sebagai saluran pertumbuhan, di tengah imbal hasil di dalam negeri yang masih tertekan oleh suku bunga rendah dan populasi yang menua.
Bagi India, aliran dana ini membawa penguatan neraca keuangan dan kredibilitas, di saat sistem keuangannya terus berkembang untuk melayani jutaan peminjam.
GFTN, platform berbasis Singapura yang lahir dari inisiatif fintech Monetary Authority of Singapore, bekerja sama dengan bank dan perusahaan dari kedua belah pihak untuk menyusun kerja sama di bidang talenta, teknologi, dan akses pasar.
Perusahaan-perusahaan Jepang telah lama mengoperasikan global capability center di India, namun kini banyak yang meningkatkan fungsi unit-unit tersebut untuk mendukung fungsi perbankan inti, pembayaran, dan manajemen risiko, bukan sekadar pekerjaan back-office.
Salah satu proyek percontohan, BharatNetra Initiative di Odisha, berfokus pada pengembangan talenta fintech untuk peran-peran di bidang keuangan digital.
GFTN juga telah bekerja sama dengan MUFG dan SMBC untuk membawa mahasiswa India ke Tokyo, serta bermitra dengan pemerintah negara bagian Odisha untuk melatih hampir 190 mahasiswa melalui program fintech enam bulan yang diselenggarakan oleh National University of Singapore-the Asian Institute of Digital Finance (NUS-AIDF).
Selain di bidang talenta, bank-bank Jepang juga bekerja sama dengan mitra-mitra India untuk menguji berbagai use case praktis, khususnya bagi usaha kecil dan menengah.
Use case tersebut mencakup trade finance, pembiayaan rantai pasok, pembiayaan terkait iklim, asuransi, dan alat identitas digital.
Bagi para pemberi pinjaman Jepang, India menyediakan pasar nyata untuk menguji produk yang nantinya dapat diadaptasi di kawasan Asia lainnya.
Infrastruktur publik digital India telah menjadi daya tarik utama. Selama dekade terakhir, negara ini telah membangun jalur yang saling terhubung (interoperable) untuk identitas, pembayaran, dan berbagi data, yang memungkinkan perusahaan swasta menghadirkan layanan keuangan dengan biaya marjinal yang sangat rendah.
Mohanty mengatakan hal ini telah menjadikan India sebagai acuan dalam menghadirkan keuangan inklusif dalam skala besar.
Sementara itu, peran Jepang lebih berkaitan dengan kredibilitas dibandingkan kecepatan. Bank-bank Jepang mampu menjamin (underwrite) transaksi besar dan mendukung transformasi jangka panjang di pasar-pasar berkembang seperti India, Filipina, dan Thailand. Regulator Jepang bersikap hati-hati namun tetap terbuka untuk terlibat dalam bidang-bidang baru, termasuk aset digital dan pembiayaan yang terkait keberlanjutan (sustainability-linked finance).
Tujuan yang lebih luas, menurut Mohanty, bukanlah keseragaman regulasi, melainkan harmonisasi yang dapat diterapkan secara praktis.
“Ini soal membangun jembatan yang dapat dipercaya antara rezim-rezim yang saling kompatibel,” katanya dalam sebuah panggilan video. Ia menekankan bahwa hal ini hanya akan berhasil jika dikaitkan dengan use case nyata dalam perekonomian.
“GFTN menaruh taruhannya pada Asia,” kata Mohanty. “Kami percaya Asia dalam dekade mendatang akan menjadi pelopor dan pembawa panji inovasi.”