, Indonesia
1021 views

Bank Mandiri membantu nasabah pantau emisi karbon pribadi

Bank terbesar di Indonesia berdasarkan aset itu ingin mendorong masyarakat menjadi pelopor keberlanjutan.

Bank Mandiri kini memungkinkan pengguna superapp Livin’ by Mandiri untuk menghitung jejak karbon dari aktivitas sehari-hari, seperti penggunaan listrik dan transportasi. Langkah ini dilakukan seiring dengan dorongan global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Fitur “Livin’ Planet” dalam aplikasi ini juga memberikan rekomendasi cara praktis untuk mengimbangi dampak lingkungan, seperti melalui program penanaman pohon.

“Melalui fitur ini, nasabah dapat secara mandiri mengukur dan memahami dampak aktivitas mereka terhadap lingkungan,” kata Darmawan Junaidi, Presiden Direktur Bank Mandiri, dalam pernyataan resminya.

Nasabah dapat berpartisipasi dalam program penanaman pohon yang dijalankan oleh Bank Mandiri di mana bank tersebut bekerja sama dengan Jejakin, mitra konservasi mereka. Dana untuk program ini berasal dari kontribusi pengguna aplikasi.

“Melalui aplikasi ini, nasabah bisa mengakses laporan yang memungkinkan mereka untuk memantau kontribusi mereka dalam program pelestarian lingkungan, sehingga keterlibatan mereka menjadi lebih transparan,” tambah Darmawan.

Darmawan menambahkan Bank Mandiri turut berperan sebagai penasihat ESG (lingkungan, sosial, dan tata kelola) bagi nasabah yang ingin bertransisi menuju ekonomi rendah karbon. Salah satu caranya adalah melalui fitur Livin’ Planet, serta melalui pembiayaan program berbasis iklim seperti proyek konservasi dan energi terbarukan.

Hingga September 2024, Bank Mandiri telah menyalurkan $17,7 miliar (Rp285 triliun) dalam bentuk pembiayaan berkelanjutan, dengan pendanaan hijau yang terus meningkat, ujar Darmawan.

Sebagai negara dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia dan ekosistem mangrove terluas mencapai lebih dari 3,36 juta hektare, Indonesia menjadi fokus utama dalam upaya global pengurangan emisi karbon.

Faktor ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan potensi solusi berbasis alam terbesar kedua di dunia, dengan kapasitas menyerap hingga 1,5 Gigaton (Gt) karbon dioksida per tahun.

Bank Mandiri berkomitmen mendukung peran strategis Indonesia dalam pengurangan emisi karbon. “Kami tidak hanya menyediakan pembiayaan, tetapi juga menjadi mitra transformasi bagi nasabah dalam transisi menuju praktik bisnis yang lebih berkelanjutan,” kata Darmawan.

“Impian besar kami adalah menjadikan nasabah sebagai ‘champion’ keberlanjutan, yang dapat memberikan dampak nyata bagi lingkungan, sekaligus memperoleh keunggulan kompetitif.”

Bank dan perusahaan asuransi ubah strategi aplikasi demi menjawab kebutuhan nyata pengguna

OCBC, Astra Life, BTN, dan ACA kini lebih menekankan kegunaan dan relevansi dibanding ambisi menjadi super app.

Kepercayaan kredit di Filipina tertahan di tengah kekhawatiran fraud

Nasabah menilai kartu kredit dan pinjaman pribadi sebagai produk berisiko.

Nasabah wealth beralih ke private market demi imbal hasil lebih tinggi

Perusahaan teknologi AS menjadi pendorong utama minat investasi, kata firma wealth digital StashAway.

CEO ZA Bank pertegas fokus pada wealth management dan aset digital

Bank digital ini berencana meluncurkan layanan perdagangan saham Hong Kong pada akhir tahun.

Hong Kong longgarkan aturan berbagi informasi untuk berantas fraud perbankan

Perubahan aturan ini memungkinkan bank berbagi data lebih luas tanpa khawatir risiko hukum.

GXS Bank perluas pembiayaan UMKM setelah akuisisi Validus

Bank digital ini juga membidik merchant Grab dan pelanggan Singtel untuk ekspansi pembiayaan.

BofA: Perusahaan ingin pembayaran lintas negara tanpa kerumitan teknologi

Koridor bilateral dinilai menciptakan tantangan baru meski menawarkan solusi.

Perusahaan kurangi penggunaan dokumen kertas, dorong percepatan transformasi trade finance

Onboarding yang cepat memungkinkan perusahaan beradaptasi lebih lincah saat perubahan tarif memaksa pergeseran pasar pemasok.

Bagaimana tokenisasi mengubah solusi manajemen kas?

HSBC dan Citi memungkinkan transfer dana 24/7 melalui teknologi ini.

Bank-bank Hong Kong kehilangan talenta terbaik akibat proses rekrutmen yang terlalu panjang

Perekrutan naik 2,5% di 15 bank berdasarkan survei tahunan Asian Banking & Finance.