Bagaimana TranSwap membantu UKM ekspansi ke luar negeri dengan memangkas biaya valas

Mereka mengembangkan sebuah solusi dengan integrasi API, yang memungkinkan transfer kecil namun dalam volume besar dapat dikreditkan secara real-time.

Selama puncak Krisis Keuangan Asia pada tahun 1997, Benjamin Wong menghadapi masalah: Dia ingin melindungi nilai terhadap eksposur mata uang dolar AS dengan FX lewat kontrak berjangka, tetapi menemukan premi yang terlalu mahal dan penyebaran spot rate nya sangat besar .

Masalah terkait pertukaran mata uang dan pembayaran internasional bukanlah hal baru bagi individu dan bisnis yang perlu mengirim uang ke luar negeri. Di antara sejumlah besar tantangan yang dihadapi termasuk waktu pemrosesan yang panjang, tingkat transfer dan konversi yang tinggi dan fluktuatif serta kurangnya transparansi dan keterlacakan untuk melacak pembayaran lintas negara secara real time.

Pada saat itu, Wong menemukan seorang teman luar negeri yang setuju untuk menukar dolar AS dengan dolar SG dengan kurs pasar menengah. Tetapi kondisi yang sama  tidak ditemukan untuk  individu dan bisnis lain pada saat itu, yang dipaksa untuk menanggung biaya tinggi dan tantangan lainnya hanya untuk melakukan pembayaran internasional dan transaksi uang.

Didorong oleh pengalaman dan keberterimaan pemerintah selama tahun-tahun berikutnya, Wong akhirnya meninggalkan pekerjaan perusahaannya dan ikut mendirikan TranSwap, platform pembayaran lintas negara yang berupaya menyederhanakan pembayaran dan pengumpulan uang di luar negeri dengan mengurangi biaya valas dan kompleksitasnya.

“Dalam beberapa tahun terakhir, dimana fintech telah menjadi kenyataan dan diterima secara luas oleh otoritas terkait,  membangkitkan gairah saya untuk memecahkan masalah valuta asing yang saya dan banyak UKM lainnya hadapi, seperti biaya tinggi dan kurangnya transparansi dalam proses transaksi,”Wong mengatakan kepada Asian Banking & Finance.

TranSwap menawarkan opsi pembayaran melalui jaringan luas mitra valuta asing dan platform terkait. Perusahaan ini bertujuan untuk membantu bisnis, terutama UKM, mengatasi hambatan untuk menjadi pemain global dan memasuki pasar baru dengan opsi pembayaran yang lebih baik, menurut Wong.

Solusi pembayaran perusahaan telah dikembangkan dengan integrasi API, yang memungkinkan transfer kecil dalam volume besar dikreditkan langsung ke dompet penerima dan rekening bank secara real-time. Hal tersebut tercatat dapat meningkatkan kecepatan pemrosesan dan mengoptimalkan peminjaman yang merupakan elemen kunci dalam menjaga arus kas.

Tujuan Wong dan TranSwap untuk meningkatkan pembayaran lintas negara untuk perorangan dan usaha kecil menjadi sorotan ketika pandemi melanda pada awal 2020. Di Singapura, periode karantina diberlakukan pada Maret 2020, secara efektif menutup banyak toko fisik dan bahkan outlet pengiriman uang, dan secara keseluruhan mempersulit banyak orang untuk mengirim uang ke luar negeri.

TranSwap mengakui betapa sulitnya bagi pekerja asing atau foreign domestic workers (FDW) dalam mengakses layanan pengiriman uang untuk mengirim uang ke rumah dan keluarga mereka selama periode tersebut. Hal ini mendorong fintech untuk meluncurkan layanan pengiriman uang elektronik untuk pekerja asing, sehingga mereka dapat mengirim uang secara digital.

Layanan baru ini tercatat memungkinkan pengusaha lebih fleksibel dalam mengirim uang ke para pekerja asing tanpa harus pergi ke outlet-outlet  pengiriman uang di kota.

Ini hanyalah salah satu layanan baru yang diluncurkan oleh fintech seperti TranSwap sebagai tanggapan terhadap kebutuhan digital individu yang timbul karena pandemi COVID-19.

"COVID-19 telah mempercepat adopsi transaksi online, menghasilkan perubahan signifikan terhadap pembayaran online," kata Wong. Dia melihat ini hanya sebagai awal dari lonjakan bisnis fintech dan online.

"COVID-19 telah membuat perusahaan-perusahaan yang ada secara fisik terbiasa dengan kehadiran teknologi seperti fintech,”ujarnya.

Ke depan, Wong dan TranSwap mengantisipasi peningkatan jumlah kolaborasi dengan perusahaan fintech dan peningkatan interoperabilitas (kemampuan membuat sistem dan organisasi dapat bekerja sama) produk dan solusi layanan lainnya. Wong juga mengharapkan AI dan blockchain untuk diadopsi secara mainstream.

Follow the link for more news on

UNO Digital Bank menargetkan menjadi bank virtual terdepan di Filipina

CEO Manish Bhai mengatakan mereka ingin menjadi yang pertama dalam memenuhi kebutuhan keuangan nasabah Filipina.

DBS Hong Kong pamerkan seragam baru untuk merepresentasikan cabang yang lebih hijau

Bank membuat pernyataan tentang masa depan bukan melalui produk baru, tetapi dengan seragam.

Sektor keuangan dan perbankan Indonesia merupakan industri kedua yang paling banyak mendapat serangan siber

Lembaga keuangan diserang tiga kali lipat dari rata-rata global setiap minggu.

Investasi fintech Indonesia mencapai rekor tertinggi di semester pertama

Payment gateway Xendit mengumpulkan $300 juta dalam pendanaan Seri D untuk membantu menaikkan angka.

Thailand mengejar ketertinggalan keuangan hijau global

Bank menyerukan legislator untuk mengenakan pajak karbon dan tujuan taksonomi bersama.

DBS menunjuk Lim Chu Chong sebagai presiden direktur DBS Indonesia

Lim saat ini menjabat sebagai COO Institutional Banking Group DBS.

Home Credit Indonesia menyepakati pinjaman terkait ESG senilai $10 juta dengan Deutsche Bank

Pinjaman tersebut akan digunakan untuk meningkatkan inklusi dan literasi keuangan.

Data adalah kutukan sekaligus anugerah dalam upaya mengatasi kesenjangan investasi yang berkelanjutan

Menggunakan alat ini dengan cara yang benar adalah kunci untuk mendorong dan memenuhi tujuan ESG, kata Sisca Margaretta dari Experian.

LINE Bank Indonesia meluncurkan dua pinjaman digital baru

Pinjaman ini memiliki opsi pembayaran yang fleksibel.